Rabu, 13 Februari 2019

Literasi Digital


LITERASI DIGITAL. Materi ini disampaikan di seminar online Kopdar GGDN Riau.
Kita sekarang sedang berada di era digital. Interaksi yang kita lakukan tidak hanya di dunia nyata namun juga di dunia maya. Bentuk interaksi yang paling dominan tentunya dalam media sosial, menyusul kemudian media-media internet lainnya.
Perkembangan dunia digital begitu pesat baik itu dalam bentuk perangkat digital atau kemudahan akses komunikasi digital melalui internet. Generasi muda yang disebut-sebut sebagai generasi milenial atau generasi digital dengan mudahnya mengakses internet. Banyak remaja yang mengakses internet dengan durasi waktu yang bisa dibilang lumayan lama.
Menurut hasil riset yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) bersama dengan Pusat Kajian Komunikasi (Puskakom) Universitas Indonesia, total jumlah pengguna internet di Indonesia per awal 2015 adalah 88.1 juta orang. Akan tetapi, sesuai dengan riset yang dilansir oleh wearesocial. sg pada tahun 2017 tercatat ada sebanyak 132 juta pengguna internet di Indonesia dan angka ini tumbuh sebanyak 51 persen dalam kurun waktu satu tahun.
Berdasarkan hal tersebut, banyak masyarakat khawatir akan dampak negatif dari perkembangan dunia digital antara lain: banyaknya remaja yang dengan mudahnya mengakses konten berbau pornografi, tersebarnya berita bohong/hoax, adanya ujaran kebencian antara pihak yang berseteru, dan kurangnya sikap toleransi dalam bermedia sosial. 
Berinteraksi dengan media sosial atau media internet lainnya menuntut adanya kemampuan literasi digital yang baik sehingga mampu memfilter segala informasi yang diterima apakah informasi tersebut benar adanya atau hanya berisi kebohongan. Di samping itu dengan memahami literasi digital, kita tidak hanya mampu menggunakan fasilitas media sosial dan media internet saja tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi dan perangkatnya.
Literasi digital merupakan kemampuan individu dalam menggunakan teknologi digital untuk berkomunikasi, berkreasi, dan berpartisipasi secara efektif memanfaatkan internet sehingga mampu memfilter informasi yang ada.
Berdasarkan pengertian tersebut, literasi digital bukanlah semata-mata penguasaan teknologi komputer dan keterampilan menggunakan internet melainkan lebih luas dengan memadukan literasi dan digital. Literasi lebih mengarah ke membaca, menulis, dan berpikir kritis sedangkan digital lebih mengarah ke perkembangan teknologi. Dengan begitu, literasi digital mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan teknologi dan internet dalam berkomunikasi.
Sebagaimana dilansir Breaking News, 7 Februari 2019, Dr. Rulli Nasrullah, M.Si., mengatakan bahwa literasi digital merupakan titik terpenting yang harus dipahami generasi melenial untuk menjaga lingkungan medsos di tengah maraknya ujaran kebencian di dunia maya. Literasi digital mensyaratkan penggunanya untuk bertanggung jawab terhadap konten di medsos itu sendiri. Karena pada kenyataannya, misalkan walau medsos itu akunnya bersifat pribadi dalam pengertian dibangun daan dimiliki oleh pengguna itu sendiri, namun konten yang diunggah pada dasarnya bersifat mass-self communication.
Pernyataan tersebut dapat dimaknai bahwa memang pada dasarnya akun media sosial itu milik pribadi kita namun konten yang diunggah dapat diakses oleh jaringan, teman, atau follower sehingga muncullah komunikasi atau kehidupan social secara online. Secara natural maka muncullah etika dalam bermedia social. Di sinilah muncul rasa tanggung jawab untuk bermedia social dengan ramah dan bertanggung jawab.
Sebagai masyarakat, kita perlu menyadari adanya bahaya konten negatif dan hoax baik dalam jangka pendek ataupun jangka panjang. Ketika mendapati konten negatif atau hoax lebih baik tidak menyebarkannya, tidak berkomentar di sana, dan kemudian melaporkannya ke pengelola atau administrasi media social.
Jika mendapati ujaran-ujaran kebencian lebih baik tidak ikut-ikutan. Secara tidak langsung kita terpicu hasutan kebencian tersebut jika ikut-ikutan saling hina dan saling caci. Seandainya kita memihak salah satu pihak yang berseteru lebih baik ungkapkan keunggulannya bukan mencari celah kejelekan lawannya.
Diperlukan pendekatan multidimensi agar masyarakat khususnya remaja, terdidik secara digital sehingga melek teknologi, cerdas, kreatif, dan berbudaya.  Masyarakat harus memahami budaya pembuat informasi dan memahami budaya sendiri sehingga mampu memfilter informasi tersebut sesuai dengan budayanya atau tidak. Selain itu, harus mampu bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi untuk berinteraksi dengan sesama. Ketika mendapati konten negatif, masyarakat harus mampu menilai dan mengkritisi. Selanjutnya, selain sebagai pengguna, perlu disadarkan pentingnya sebagai penggagas atau pencipta sesuatu dengan memanfaatkan perkembangan digital. Sadar maupun tidak disadari, informasi di media sosial dan media internet lain akan berdampak pada pembentukan karakter bangsa terutama menghadapi informasi bohong (hoax) atau ujaran kebencian.
Beberapa hal di bawah ini merupakan manfaat literasi digital yang harus dipahami baik oleh kalangan remaja maupun dewasa. Peluang ini harus dikedepankan sehingga memberikan motivasi untuk maju dengan menggunakan teknologi digital. Manfaat perkembangan digital antara lain:
memberi peluang bisnis e-commerce
memberi peluang kerja berbasis media digital
memudahnya individu mengembangkan kemampuan berliterasi melalui blog pribadi atau media lain
memberi peluang berwirausaha tanpa modal besar
memudahkan mengumpulkan tulisan yang sudah diunggah di berbagai media dan membukukannya
memudahkan mencari berbagai informasi
mempromosikan karya tanpa harus beriklan di media massa
memberi kesempatan mengekspresikan ide kreatif dan inovatif
melatih mengemukakan gagasan tentang sesuatu
Memanfaatkan media sosial untuk berbagi hal-hal positif harus digalakkan. Dengan begitu berita kebohongan (hoax) akan mudah terdeteksi. Penerima informasi akan segera mengkroscek berita dengan berita-berita lain dan membandingkan mana yang benar dan mana yang bohong.
Jadilah driver (pengemudi) dalam dunia literasi bukan hanya jadi passanger (penumpang) saja. Mulai dari kemampuan atau keahlian yang kita miliki. Sebagai contoh, jika profesi kita guru, ya mulailah menjadi pencetus dan penggagas ide kreatif untuk meningkatkan dunia pendidikan, menjadi guru yang mampu berbagi penerapan-penerapan media dan strategi pembelajaran kreatif, menjadi guru yang mampu memanfaatkan teknologi dalam pendidikan, menjadikan internet sebagai media untuk menuangkan materi yang diampu sehingga dapat diakses oleh siapa saja dan kapan saja.Semua ide itu dapat ditulis dalam bentuk artikel populer yang diunggah di blog pribadi,  aku pribadi media sosial,  atau media internet lainnya. Menulis dalam bentuk fiksi sebagai media hiburan sekaligus pendidikan pun juga bisa menjadi alternatif bentuk tulisan. 
Sebagai masyarakat kita harus mampu berliterasi digital sehingga terhindar dari yang namanya gagap teknologi,  terhindar dari berita hoax,  dan mampu menjadi kreator dalam memanfaatkan dunia digital.

Tips Menulis Buku


Tips menulis buku ini disampaikan dalam seminar di grup melek literasi (bagian dari Grup Guru Dahsyat Nusantara) yang ada di TELEGRAM.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Bismillahirrahmanirrahim.  Segala puji bagi Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga kita masih dipertemukan dalam seminar kali ini.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurah pada Nabi Muhammad SAW.

Terima kasih atas kesempatan yang diberikan pada saya untuk memaparkan materi tentang Tips Menulis Buku.

Apa kabar sahabat Guru Melek Literasi?  Semoga selalu sehat dan dalam lindunganNya.

Tips Menulis Buku
Untuk memulai menulis, modal dasarnya adalah kita harus banyak membaca terlebih membaca bacaan yang sesuai dengan apa yang ingin kita tulis. Di masa sekarang kita tidak perlu khawatir kekurangan sumber bacaan.

Sumber bacaan bisa dari buku yang sudah banyak beredar, surat kabar, majalah, ebook, atau dari situs-situs online.

Setelah memiliki modal pengetahuan atau sambil mencari pengetahuan tentang apa yang akan ditulis maka perlu memperhatikan tips berikut.

Berikut ini, saya berikan lima tips bagaimana memulai tulisan.
1. Mencatat Ide-Ide yang Bermunculan
2. Memilih Ide
3. Membuat Rancangan Tulisan
4. Mencari Sumber Bacaan
5. Menulislah

1. Mencatat ide-ide yang bermunculan
Tanpa kita sadari,  ketika mengamati sesuatu,  mengalami suatu peristiwa yang mengesankan,  atau menanggapi suatu kejadian, dalam benak kita bermunculan berbagai ide.

Ide tersebut gampang datangnya,  gampang pula hilangnya seiring banyaknya aktivitas kita.

Nah mulai sekarang,  mulailah jeli mengabadikan ide-ide yang bermunculan. Catatlah meski tak beraturan atau tak berhubungan satu sama lain.

Banyak tempat yang bisa dijadikan sarana untuk mencatat ide tersebut baik secara manual atau elektronik. Bisa di notebook,  handphone,  laptop, buku saku,  atau yang lain.

Betul ya Bu Yusma.  ๐Ÿ˜Š
Saya terkadang juga begitu,  sayang banget sebenarnya tapi apalah daya,  daya ingat tak seberapa.

Kalau tidak punya ide,  apakah keinginan menulis cukup dipendam dalam hati?

Jawabnya harusnya ga ya.  ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜

Nah caranya,  kita harus mencari sumber ide.

Sumber ide itu bisa dicari.  Kita bisa mencarinya lewat membaca,  mengamati lalu lalang orang,  mengamati info terhangat,  menonton televisi,  menonton film, atau mengingat-ingat pengalaman sendiri.

Yang paling dekat dengan kita kadang terlewat dari angan-angan menjadikannya sumber ide.  Dunia belajar mengajar misalnya, bisa menjadi sumber ide teraktual. ๐Ÿ˜

2. Memilih ide
Setelah memiliki banyak ide,  pilih dan pilahlah ide-ide tersebut.  Kira-kira mana yang patut dijadikan bahan tulisan. 
Mungkin ada beberapa yang saling berkaitan,  gabungkan itu.

Memilih ide bisa dari yang paling menarik,  paling dimengerti, paling dipahami,  serta mudah mencari referensinya.

Setelah memilih ide,  di situlah kita dapat menentukan tema karena dasar tema adalah ide yang dipilih.  Untuk menjadikannya sebuah tema,  ide yang dipilih ditentukan batasannya sehingga tidak terlalu luas atau terlalu sempit sehingga kesannya mengambang atau dangkal pembahasannya.

Jika menulis fiksi, tema akan mengarahkan pada pemilihan tokoh, alur cerita/plot, latar, dan pesan yang disampaikan

3. Membuat rancangan tulisan
Rancangan tulisan biasa disebut sebagai outline.
Cara menulis outline bisa dengan menulis poin-poin penting dari ide tulisan.  Poin-poin itu bisa menjadi subjudul buku yang akan ditulis.
Setelah itu rincilah poin-poin tersebut.  Rincian bisa dibuat dalam bentuk mind mapping atau ide-ide penting yang akan menjadi pembahasan di tiap subjudul.

4. Mencari sumber bacaan
Jika kita mau menulis buku nonfiksi maka perlu mencari sumber bacaan baik sebagai referensi atau sebagai pembanding tulisan yang akan dibuat.

Buku merupakan sumber informasi yang bisa membuka wawasan kita tentang berbagai hal, baik itu yang berhubungan dengan profesi, hobi, kebutuhan, dan motivasi hidup. Salah satunya kita menjadi paham bahwa hal-hal yang unik atau sederhana ternyata bisa menjadi bahan bacaan yang menarik karena disajikan dengan sudut pandang yang berbeda.

Internet menyediakan berbagai informasi yang dengan mudah bisa kita akses di mana pun dan kapan pun. Blog dan website yang ada banyak memberikan tambahan pengetahuan buat kita asal kita bisa memfilter kebenaran informasi tersebut.

5. Menulislah
Memulai menulis tidak harus setelah selesai membaca semua literatur yang ada.  Membaca beberapa buku meski belum sampai habis,  jika ide untuk menulis sudah ada maka segera menulis.  Atau sebaliknya menulis dulu berdasarkan pengetahuan yang dimiliki kemudian di sela-sela senggang,  kita sempatkan membaca literatur yang berhubungan dengan tema tulisan atau segenre jika mau menulis fiksi (novel,  cerpen,  atau puisi)

Setelah menulis berdasarkan outline,  endapkan sebentar kemudian lakukan tahapan pascamenulis.
Tahapan ini antara lain, 1)self editing,  2) melengkapi calon buku dengan kata pengantar, daftar isi, serta biodata. 3) menentukan jodoh tulisan alias mencari penerbit.  4)  mengirim naskah ke penerbit

5)  menunggu konfirmasi penerbit
6) mempromosikan buku

Materi untuk seminar kali ini saya anggap cukup ya.
Silakan jika ada pertanyaan.

Pertanyaan:
Burhan Najmu:
Klo sy kesulitannya adalah menyusun kata2 dalam kalimat yg sistematis dan efektif, sebut saja ketika sy membuat makalah yg di ambil dari beberapa buku yg telah sy baca, eh ternyata penyusunan kalimatnya masih kurang pas, kira2 tips mengefektifkan susunan kalimat.
Jawaban: 
Menurut JS badudu kalimat efektif adalah kalimat yang baik karena apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh si pembaca (si penulis dalam bahasa tulis) dapat diterami dan dipahami oleh pendengar (pembaca dalam bahasa tulis) sama benar dengan apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh si penutur atau si penulis.

Jadi kalimat efektif itu maknanya sesuai dengan apa yang ada di pikiran penulis,  tidak ambigu/bermakna ganda, tidak menimbulkan salah tafsir

Caranya menulis kalimat dengan memilih kata yang tepat,  tidak berbelit-belit,  ada kesatuan yang dibangun antara kata yang satu dengan yang lain sehingga ada kepaduan, ada kepararelan sehingga bisa dibilang sistematis.

Pertanyaan:
Maksum Mohd:
Saya itu kebingungan menulis buku fiksi dari pada non fiksi. Gmna solusinya buk?
Jawaban:
Setiap orang memang punya kemampuan yang berbeda.  Tekuni terus dunia nonfiksi juga tidak masalah.  Jika ingin mencoba diksi mulai dengan menceritakan pengalaman pribadi mudah-mudahan lebih mengalir idenya.

UMI Bimbel SMART:
Saya kesulitan menulis saat mood tidak bagus. Seperti sekarang saya sedang menulis antologi puisi cinta. Karena utk kenaikan pangkat harus menulis 40 judul. Ini sudah judul ke 39,tapi sudah 4 hari ini satu bait pun tidak bisa. Tadi sore sudah bisa menulis satu puisi, eee ternyata lampu mati. Yaaa akhirnya mood hilang lagi. Kira2 bagฤ…imana cara membangkitkan mood? Dulu saat di DL 30 hari 1 buku yang 15 hari pertama saya enak2 tidak mau nulis, baru menginjak hari ke 16 saya mau menulis. Dan Alhamdulillah selama 15 hari bisa menulis 2 buku.
Bagaimana membangkitkan mood yg naik turun?
Jawaban: 

Mungkin perlu refresing Bu Uminya.  Karena tuntutan membuat kita tertekan sehingga ide malah blank.  Jalan-jalan sebentar,  me time mungkin,  dengar musik atau nonton.
Sukses Umi, sudah memiliki buku. 

Pertanyaan: 
Fitria Linda Kurniawati:
Saya masih bingung saat membuat cerpen.
Utk penulisan cerpen lebih dititik beratkan pada Telling atau Showing ya Bu?
Karena setiap saya nulis cerpen pasti terlalu panjang.
Jawab:
Menulis cerpen baiknya showing bukan telling.  Tunjukkan bukan paparkan.  Showing itu menunjukkan sehingga pembaca seolah-olah ikut merasakan,  mengalami,  atau melihatnya.  Jika telling,  pembaca hanya memaparkan atau mengatakan saja sehingga pembaca hanya seolah membaca saja.

Pertanyaan:
Burhan Najmu:
Maaf ibu Nur antoligi puisi itu minimal dan maksumal puisinya harus berapa ya?
Jawaban: 
Sebenarnya suka-suka penulis.  Biasanya satu puisi itu kan hanya selembar jadi kita rencananya mau setebal apa antologinya.  Kalau 80 halaman ya minimal 60-80 puisi.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.03.
Mohon maaf jika penyampaian materi kali ini kurang berkenan di hati Bapak Ibu sekalian. 
Terima kasih atas perhatian semua sahabat Guru Melek Literasi,  Pak Riswanto selalu CEO GGDN, dan ibu Fatma selaku moderator.