Namaku Fahmi. Umur 8 tahun. Bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah Negeri kelas 2. Aku tidak tahu mengapa di sekolahkan di situ oleh ibu, padahal semua teman TK-ku sekolah di SD Negeri yang tidak begitu jauh dari rumah. Meski begitu, aku suka karena mendapat teman banyak dan guru yang baik.
Suatu hari, aku dan Rehan ditinggal ayah dan ibu mengantar adik keempat, Burhan untuk berobat. Ayah menyuruhku menyiram bunga melati kesayangan ibu jika hari menjelang sore. Aku senang jika ditinggal pergi agak lama, aku dan Rehan pasti diberi uang tambahan untuk jajan. Kami juga bisa bermain dan nonton TV sepuasnya. Biasanya ayah pasti marah-marah kalau aku nonton TV terus hingga malas belajar. Pasti kabel televisi atau antenanya dicabut jika aku masih terus nonton. Satu hal lagi yang kusuka, aku boleh pinjam laptop ibu untuk belajar menulis, bermain game, atau nonton video ‘Syamil dan Dodo’.
“Ibu perginya lama ga? Aku pinjam laptopnya ya!”
“Ya, tapi nanti naruhnya jangan asal ya, jangan ditaruh di bawah lagi. Nanti keinjak,” ucap ibuku sembari memberikan uang tambahan jajan.
“Ingat jangan jajan es! Dan jangan lupa ya siram bunga melatinya!” Ayah memperingatkan.
“Iya ya. Ihhh.”
Kenapa sih aku selalu dilarang jajan es padahal kan seger, manis, dan enak. Dan lagi kalau aku habis jajan es pasti ayah dan ibu tahu.
“Fahmi tadi beli es ya di sekolah?”
“Enggak.”
“Yang benar? Itu batuk, jajan apa kalau bukan es?”
Sambil malu-malu aku jawab, “hehehe, ya.”
Habis itu pasti ibuku ngomel-ngomel. Aduh kalau ingat itu maunya sih tidak jajan es. Malas kena omelan ibu terus.
Ayah biasanya menyiram bunga setelah asar. Enaknya sholat dulu apa siram-siram bunga dulu ya? Main laptopnya kapan? Pikirku sambil nonton film ‘Marsha and The Bear’ di televisi.
“Rehan, siram-siram bunga dulu yuk, terus nanti kita mandinya ga usah lepas baju. Kayak berenang, main pancuran. Mau ga? Seru kan.”
“He eh, mau, mau. Ayo.”
“Entar dulu, ishh. Tunggu sponsor dulu,” sambil kudorong Rehan agar duduk kembali.
“Ihh, mas Fahmi, ma, sakit tahu.”
“Ya ya ish, maaf. Makanya duduk dulu.”
Begitu sudah sponsor, langsung kumatikan televisi dan mulai menyalakan kran yang sudah dipasangi selang oleh ayah tadi sebelum berangkat.
Melatinya banyak yang masih kuncup. Bunganya banyak. Aku tidak tahu mengapa ibuku suka bunga melati. Katanya sih wangi. Haish, mana katanya wangi, setelah kucoba memetik kuncup melati dan menciumnya.
“Mas jangan diambilin geh. Ga boleh diambil kalau masih kecil. Kalau udah mekar boleh diambil kata ibu,” Rehan melarangku.
“Ya udah, yuk kita siram.” Segera kuarahkan selang ke pohon-pohon melati di samping rumah. Sesekali kusemprotkan air ke arah atas sehingga agak lama jatuh ke pohon melatinya. Melihat itu Rehan senang dan berusaha meloncat meraih air yang kusemprot. Aku juga senang memainkan selang airnya hingga baju Rehan sedikit basah. Kami tertawa senang. Ternyata menyiram bunga itu menyenangkan.
Setelah puas bermain air sambil menyiram bunga melati, kami berdua kembali bermain air di kamar mandi. Pancuran showernya kunyalakan, pancuran air yang buat wudhu juga dinyalakan. Jalan tempat pembuangan airnya ditutup menggunakan bajuku. Dan jadilah kamar mandi seperti kolam renang meski cuma sebatas mata kaki. Aku senang sekali, Rehan juga.
“Fahmi! Cepat mandinya! Main aja dari tadi. Itu mandi apa mandi?” ayahku berteriak.
Aku kaget. Ayah pulang lebih cepat dari yang kukira. Segera kami membuka penutup selokan yang kubuat tadi. Kami segera memakai sabun dan sikat gigi. Rehan kuambilkan sikat gigi karena dia belum bisa menjangkau tempat sikat gigi. Setelah memakai baju dan sholat, aku duduk di sebelah ibu di teras samping rumah.
“Fahmi tadi yang menyiram bunganya ya. Makasih ya. Lihat itu bunganya agak sedikit mengembang. Mungkin nanti malam baru mekar,” tutur ibu sambil menunjuk ke arah melati kesayangannya.
Aku tersenyum bangga bisa membuat ibuku senang. “Ya, besuk lagi, Fahmi aja yang menyiramnya Bu.”
“Aku juga mau bantu Mas Fahmi, Bu.” Adikku Roihan ikut-ikutan.
“Atu juja, Mas!” Faisal ikut nimbrung. Tahu juga enggak apa yang kami bicarakan. Heh dasar Faisal masih kecil.
Ibuku hanya tersenyum bahagia memandang kami semua.
Suatu hari, aku dan Rehan ditinggal ayah dan ibu mengantar adik keempat, Burhan untuk berobat. Ayah menyuruhku menyiram bunga melati kesayangan ibu jika hari menjelang sore. Aku senang jika ditinggal pergi agak lama, aku dan Rehan pasti diberi uang tambahan untuk jajan. Kami juga bisa bermain dan nonton TV sepuasnya. Biasanya ayah pasti marah-marah kalau aku nonton TV terus hingga malas belajar. Pasti kabel televisi atau antenanya dicabut jika aku masih terus nonton. Satu hal lagi yang kusuka, aku boleh pinjam laptop ibu untuk belajar menulis, bermain game, atau nonton video ‘Syamil dan Dodo’.
“Ibu perginya lama ga? Aku pinjam laptopnya ya!”
“Ya, tapi nanti naruhnya jangan asal ya, jangan ditaruh di bawah lagi. Nanti keinjak,” ucap ibuku sembari memberikan uang tambahan jajan.
“Ingat jangan jajan es! Dan jangan lupa ya siram bunga melatinya!” Ayah memperingatkan.
“Iya ya. Ihhh.”
Kenapa sih aku selalu dilarang jajan es padahal kan seger, manis, dan enak. Dan lagi kalau aku habis jajan es pasti ayah dan ibu tahu.
“Fahmi tadi beli es ya di sekolah?”
“Enggak.”
“Yang benar? Itu batuk, jajan apa kalau bukan es?”
Sambil malu-malu aku jawab, “hehehe, ya.”
Habis itu pasti ibuku ngomel-ngomel. Aduh kalau ingat itu maunya sih tidak jajan es. Malas kena omelan ibu terus.
Ayah biasanya menyiram bunga setelah asar. Enaknya sholat dulu apa siram-siram bunga dulu ya? Main laptopnya kapan? Pikirku sambil nonton film ‘Marsha and The Bear’ di televisi.
“Rehan, siram-siram bunga dulu yuk, terus nanti kita mandinya ga usah lepas baju. Kayak berenang, main pancuran. Mau ga? Seru kan.”
“He eh, mau, mau. Ayo.”
“Entar dulu, ishh. Tunggu sponsor dulu,” sambil kudorong Rehan agar duduk kembali.
“Ihh, mas Fahmi, ma, sakit tahu.”
“Ya ya ish, maaf. Makanya duduk dulu.”
Begitu sudah sponsor, langsung kumatikan televisi dan mulai menyalakan kran yang sudah dipasangi selang oleh ayah tadi sebelum berangkat.
Melatinya banyak yang masih kuncup. Bunganya banyak. Aku tidak tahu mengapa ibuku suka bunga melati. Katanya sih wangi. Haish, mana katanya wangi, setelah kucoba memetik kuncup melati dan menciumnya.
“Mas jangan diambilin geh. Ga boleh diambil kalau masih kecil. Kalau udah mekar boleh diambil kata ibu,” Rehan melarangku.
“Ya udah, yuk kita siram.” Segera kuarahkan selang ke pohon-pohon melati di samping rumah. Sesekali kusemprotkan air ke arah atas sehingga agak lama jatuh ke pohon melatinya. Melihat itu Rehan senang dan berusaha meloncat meraih air yang kusemprot. Aku juga senang memainkan selang airnya hingga baju Rehan sedikit basah. Kami tertawa senang. Ternyata menyiram bunga itu menyenangkan.
Setelah puas bermain air sambil menyiram bunga melati, kami berdua kembali bermain air di kamar mandi. Pancuran showernya kunyalakan, pancuran air yang buat wudhu juga dinyalakan. Jalan tempat pembuangan airnya ditutup menggunakan bajuku. Dan jadilah kamar mandi seperti kolam renang meski cuma sebatas mata kaki. Aku senang sekali, Rehan juga.
“Fahmi! Cepat mandinya! Main aja dari tadi. Itu mandi apa mandi?” ayahku berteriak.
Aku kaget. Ayah pulang lebih cepat dari yang kukira. Segera kami membuka penutup selokan yang kubuat tadi. Kami segera memakai sabun dan sikat gigi. Rehan kuambilkan sikat gigi karena dia belum bisa menjangkau tempat sikat gigi. Setelah memakai baju dan sholat, aku duduk di sebelah ibu di teras samping rumah.
“Fahmi tadi yang menyiram bunganya ya. Makasih ya. Lihat itu bunganya agak sedikit mengembang. Mungkin nanti malam baru mekar,” tutur ibu sambil menunjuk ke arah melati kesayangannya.
Aku tersenyum bangga bisa membuat ibuku senang. “Ya, besuk lagi, Fahmi aja yang menyiramnya Bu.”
“Aku juga mau bantu Mas Fahmi, Bu.” Adikku Roihan ikut-ikutan.
“Atu juja, Mas!” Faisal ikut nimbrung. Tahu juga enggak apa yang kami bicarakan. Heh dasar Faisal masih kecil.
Ibuku hanya tersenyum bahagia memandang kami semua.
