Senin, 08 Desember 2014

Memoar: Suamiku Hebat

“Bu, di blog G banjir seleher!” Bbm suami setelah kasih tahu bahwa di rumah hujan disertai petir. Aku menyesal balasnya hanya lewat bbm, tidak meneleponnya. “ Wah, kok bisa, di rumah gimana? Anak-anak gimana? Tidak ada balasan dari ayah.
Minggu ini 13 April 2014, aku tidak menemani anak-anak di rumah karena mengikuti “Asma Nadia Writing Workshop” dari pukul 09.30-15.30 sehingga 4 anakku yang masih kecil-kecil ditemani ayahnya. Meskipun sebenarnya hampir tiap hari juga ditemani ayahnya jika ayahnya tidak ada kerjaan (maklum freeland). Tapi beda kalau minggu harusnya aku menemani mereka.
Aku sampai di rumah pukul 21.30 dan disambut dengan lampu mati dan suami di depan rumah dengan senternya. Anak-anak sudah tidur. Mereka tidur berjejer berempat di kasur lantai ruang tamu karena lampu mati. Biasanya Fahmi dan Roihan tidur di kamar mereka sendiri.
“Banjir Bu tadi sampai masuk rumah.”
“Hah, kok ga cerita. Kalau cerita kan aku pulang cepat meski belum selesai.”
Suami sebenarnya udah balas bbm, hanya saja tandanya masih centang, jadi? Ya jelas aku ga tahu. Mungkin karena paniknya, suami lupa atau tidak memerhatikan kalau tandanya masih centang yang berarti belum terkirim. Andai sudah tanda D berarti sudah dikirim, kalau sudah R berarti sudah dibaca. Kalau sudah tanda R, dan ga ada respon dariku berarti aku yang keterlaluan. Tapi tetap jadi merasa ga enak sama suami. Sudah terjadi, aku masih bersyukur mereka semua diberi keselamatan. Mudah-mudahan ada hikmah dari kejadian ini.
Yang aku salut banget, ketika hujan mengguyur selama 4 jam lebih sehingga terjadi banjir, suami harus antisipasi sendiri. Fahmi, anak pertama yang usianya 7,5 tahun diajak bantu apa saja. Mulai angkat barang-barang yang ada di bawah, jagain Burhan yang paling kecil baru 7 bulan di kamar belakang, sementara ayahnya menguras air banjir supaya cepat surut dan mengepel. Bisa dibayangkan betapa repotnya suamiku. Jagain anak-anak aja sudah repot apalagi sampai harus menghadapi banjir. Hebat deh! Top! Jadi makin sayang suami! I love you ayah!
Apalagi Faisal pakai acara panas lagi. Soalnya ia suka kecipak-kecipik air banjir. Lain lagi cerita tentang si Roihan anak kedua. Disuruh bantu ini ga mau, itu ga mau, maunya Cuma jagain adiknya, Burhan.
Aku tidak bisa membayangkan deh bagaimana ekspresi suami mengatasi semua itu. “Salut, Ayah! Love you full.”
Apalagi keesokan harinya Fahmi membangunkanku untuk sholat subuh. “Bu, bangun bu, udah subuh,” Bisiknya. “Hem, ya!” “Bu, tahu ga bu, kemarin banjir lo! Aku bantuin ayah. Ibu ke mana sih?”
 Ya Allah, serasa berhenti jantungku mendengar ucapan anakku. “Ya, maafkan ibu ya, ibu kemarin workshop.” Namanya anak ya belum paham apa itu workshop jadi berendeng pertanyaan menghujamku. Dengan berbagai jawaban yang mungkin bisa diterimanya akhirnya ia menyudahi pertanyaannya.
Kejadian banjir ini mengingatkan aku pada banjir pertama kali yang aku alami di kontrakan sekitar Pasar Empang, Cengkareng. Awal 2007, Fahmi baru beberapa bulan. Setiap hujan turun, kita tidak bisa tidur dengan tenang berbeda dengan yang dilakukan suami kemarin. Ia dan anak-anak tidur sehingga agak terlambat mengetahui kalau banjir karena selama kami tinggal di perumahan ini belum pernah kebanjiran.
Sejak kejadian itu aku jadi semakin sayang suami dan anak anak. Suami agak heran (sambil mengernyitkan muka) ketika aku sering mengucap kata sayang untuknya dan anak-anak.


0 komentar: