Senin, 08 Desember 2014

Memoar: Anakku, Semangat dan Napasku



Awal Pernikahan
Menjadi seorang ibu adalah dambaan semua wanita yang sudah menikah. Begitu pula dengan dambaan memiliki anak, menjadi sebuah pengakuan akan sebutan sebagai ibu. Menikah kemudian langsung diberi kesempatan untuk hamil merupakan sebuah anugerah yang tak terkira.
Begitu pula dengan pernikahan saya 9 tahun silam. Pernikahan kami dilaksanakan pada pertengahan tahun 2005. Tanpa berpacaran. Kami menikah bukan karena terpaksa atau pilihan orang tua, tapi memang atas persetujuan saya setelah ia menyatakan menyukai saya dan siap melamar saya. Kehamilan adalah masa yang kami tunggu-tunggu setelah menikah.
Tapi sayang kehamilan pertama saya mengalami keguguran. Sungguh penyesalan yang tiada terkira. Saya menyesal karena pasca menikah saya kurang memperhatikan mana minuman yang sebenarnya tidak diperbolehkan untuk wanita yang hamil,  salah satunya minuman yang bersoda. Karena baru terlambat satu bulan, saya belum sempat periksa ke dokter, hanya melakukan tes menggunakan tespek, itupun hasilnya samar-samar. Sehingga timbul keraguan apakah saya hamil atau tidak. Saya berencana periksa bulan berikutnya. Namun apa mau dikata sebelum sempat periksa di bulan berikutnya saya sudah mengalami flek selama berhari-hari hingga keguguran. Dan catatan terpenting penyebab keguguran saya karena saya sempat pijit urut. Ketidaktahuan sungguh sebenarnya tidak bisa jadi alasan, namun nasi sudah menjadi bubur. Saya menyesal apakah saya keguguran murni hanya karena alasan di atas atau yang lain. Ataukah karena punya salah terhadap orang-orang terdekat? Saya pun berusaha meminta maaf pada orang tua, mertua dan suami. Dan akhirnya satu hal lagi penyebab keguguran saya yang saya ketahui 2/3 tahun kemudian yaitu karena saya jengkel teramat sangat terhadap suami. Itupun saya tahu setelah sering mendengar ceramah ustad Danu di TPI. Dan tidak bisa dipungkiri memang saya waktu itu sangat jengkel terhadap suami dan saya pendam karena hampir setiap malam saya dibuat menangis sedih oleh kata-katanya. Setelah itu akhirnya saya dan suami sepakat jika ada yang mengganjal di hati, kita harus saling komunikasi. Dan Alhamdulillah sampai sekarang hingga punya 4 jagoan kami masih saling komunikasi jika ada yang tidak berkenan di hati. Pertengkaran kecil kadang terjadi namun Alhamdulillah selalu bisa diatasi.
Pepender
Berawal dari diskusi bersama teman sembari ditemani cemilan snaks jagung.
“Kalau makan snaks ini saya jadi ingat waktu kuliah dan ingat almarhum teman saya, dia suka banget snaks ini!”
Aku mengangguk-angguk sambil tersenyum. Beliau bercerita bagaimana persahabatannya dulu dengan selalu berkirim surat dan diakhir surat selalu tertulis kata ‘pepender’. Beliau baru tahu pepender itu singkatan dari perempuan penuh derita setelah sahabatnya itu meninggal dunia. Ini pun tahunya dari teman yang lain.
Selanjutnya beliau bercerita bagaimana sahabatnya dulu mengalami penderitaan setelah melahirkan anak pertama. Entah salah siapa, pasca melahirkan normal sahabatnya ini mendapat jahitan luar dalam. Selang beberapa bulan setiap berhubungan suami istri, ia merasakan sakit. Cek ke dokter pun dilakukan dan ternyata sudah terjadi pembusukan jahitan dalam vagina. Saya jadi heran kok bisa terjadi pembusukan ya? Kenapa? Tapi saya tidak menemukan jawaban dari teman saya itu. Ia justru bercerita bagaimana suasana dan keadaan sahabatnya ketika dirawat di rumah sakit. Jadi intinya penderitaan yang terberat itu bukan di sakit inveksi jahitan/pembusukan jahitannya tapi lebih ke batinnya.
“Suami sahabatku selalu menunggu sahabatku (sebut saja namanya  Dina) di rumah sakit dan di situlah awal penderitaan batin Dina. Perawat yang menangani Dina ternyata adalah pacar lama suaminya. Mereka semakin akrab dan ternyata cinta lama bersemi kembali. Dalam kepura-puraan tidur Dina sering mendengar kemesraan mereka.”
Sungguh perjuangan seorang ibu melahirkan seorang anak itu tidak hanya pra melahirkan saja tapi pasca melahirkan pun masih penuh perjuangan untuk bisa mempertahankan dirinya agar dapat  merawat anak dan melayani suami.
Saya jadi teringat pesan ibu setiap saya selesai melahirkan. Saya harus duduk dengan benar, selonjor, dan yang selalu diwanti-wanti adalah tidak boleh tiduran di bawah atau tidur terlentang. Ibu khawatir jika anak saya yang besar secara tiba-tiba memeluk atau menubruk perut saya. Bisa fatal akibatnya karena ada kejadian yang sampai meninggal gara-gara itu.
Berdasarkan cerita teman saya tadi sebenarnya belum terlihat bagaimana sahabatnya itu penuh derita karena memang tidak ada yang tahu semenderita apa dia. Mungkin saya bisa mengambil simpulan bahwa ia termasuk orang yang lebih suka memendam perasaannya daripada menceritakannya pada orang lain. Sebenarnya menceritakan aib suami memang tidak boleh namun setidaknya ia bisa menceritakan keluh kesahnya lewat tulisan sehingga beban pikirannya sedikit berkurang misalnya lewat buku harian, insyaAllah tidak diketahui orang banyak.
Apapun anggapan kita terhadap diri kita itulah yang akan terjadi. Bisa jadi anggapan perempuan penuh derita terus menerus diucap dan didengungkan dalam diri perempuan itu secara tidak langsung itu akan menjadi doktrin dan bisa jadi sebuah doa yang jelek. Itulah yang akhirnya membuat saya lebih terbuka lagi dengan berbesar hati menerima segala masalah yang saya hadapi baik berhubungan dengan anak maupun yang lain. Kesiapan menghadapi masalah,  kesiapan memecahkan masalah, serta kesiapan mencari berbagai solusi terbaik sungguh diperlukan oleh seorang ibu.

Berbisnis
Saya teringat akan status facebook saya beberapa waktu yang lalu, di saat bisnis yang baru mulai saya rintis ternyata mengalami kendala. Berani berbisnis berarti harus berani menerima segala resiko yang berhubungan dengan bisnis itu dan harus siap menghadapinya.
Berikut ini statusnya:
Bos Terkaya

Bisnisku mengalami apa ya namanya. Ada yang tahu? Baru mulai bisnis po hp, sudah empat kali memesan barang, yang datang cuma pesanan pertama, pesanan selanjutnya diundur bulan berikutnya. Sudah tiba estimasinya diundur lagi begitu seterusnya, sampai lupa sudah berapa kali diundur. Sampai sekarang pun hpnya belum kunjung datang.
Pembeliku sudah tidak sabar, ada yang kejar-kejar dengan mengirim bbm, sms, ada jua yang mau sabar. Aku sendiri sudah tidak sabar menunggu, bayangkan transfer dari bulan maret dan april 2014, sampai bulan juli 2014 pesanan tidak kunjung datang. Apa yang Anda bayangkan?
Aku membatalkan pesanan dan meminta uang kembali, serta membatalkan penjualan dan berjanji akan mengembalikan uang secepatnya.
Tapi apa mau dikata, uang belum jua kuterima. Pembeliku sudah tidak sabar. Ada 9 orang yang sudah aku kembalikan uangnya. Meskipun ada 3 orang yang kurang, belum 100% maksudku. Masih ada 5 orang lagi yang belum dapat transferan dariku. Sebenarnya mereka juga ingin duitnya cepat balik, tapi aku memohon dan meminta mereka  sabar karena memang aku sudah tidak pegang uang.
Buat tambahan, motorku dijual, untung bukan rumah. Punyanya juga itu. Ajuan pinjaman koperasi dapatnya bulan depan. Oooo pusing mungkin ya aku. Tapi aku kok tidak tahu ya kalau pusing. Hah pusing. (Loh, tuh bilang pusing)
Apa yang harus kulakukan?
Aku baru sadar, aku kan punya bos besar. Mengadu sih udah, mungkin kurang kenceng kali.
Tapi aku yakin bosku yang terkaya di dunia ini tidak akan membiarkan aku tidak bisa menghadapi ini. Aku pasti bisa. Allah azza wajalla. KepadaMu aku memohon pertolongan.

Maksud hati ingin berbisnis untuk menambah penghasilan supaya kebutuhan kami terpenuhi secara layak namun ternyata jika ilmu berbisnis kurang dikuasai ya begitulah jadinya. Saya jadi ingin membaca buku karya Dewa Eka Prayoga yang berbicara tentang 7 Kesalahan Fatal Pebisnis Pemula supaya saya tidak tertatih-tatih dan terseok-seok ketika kembali memulai bisnis. Namun jika dingat kembali sebelum saya memulai bisnis ini, saya sudah belajar dari buku “Tembus Omset 100 Juta lewat Blackberry” karya Dewa Eka Prayoga. Berarti sebenarnya bukan cara menjalankan bisnisnya yang salah tetapi memilih supplyer bisnisnya yang kurang tepat. Sudah ada beberapa teman yang mengingatkan bahwa bisnis ini tidak rasional karena barangnya asli dan bergaransi resmi namun bisa dijual dengan harga murah. Telusur sana sini setelah ada gosib bisnis ini bermasalah, ternyata bisnis ini ada yang menyebutnya menggunakan system Ponzi.
Usaha tetap saya lakukan untuk mendapatkan uang saya kembali dan usaha itu tidak saya lakukan sendiri tapi tentu bekerjasama dengan teman seperjuangan yang juga mengalami hal yang sama dengan saya dengan mengharapkan bantuan berbagai pihak. Intinya tidak ada kata menyerah!
Penyemangat bisnisku adalah keempat anakku.
Anakku

Lelah, letih tubuh ini
Terobati kala melihat anak-anak menyambut ceria

Ibu! Ibu!
Kangen.

Pandangan mata tanpa dosa itu meneduhkan
Rengekan ini itu meramaikan
Senyum, tawa, teriakan, bercampur baur tak tergantikan

Penyemangat serta Napasku
Mendidik anak laki-laki 4 orang dengan usia yang relatif berdekatan terkadang membuat saya kewalahan. Banyak hal-hal kecil yang terabaikan. Anak pertama, Fahmi sekarang berusia 8 tahun, kelas 2 MIN. Anak kedua, Roihan berusia 6 tahun baru masuk TK. Yang ketiga, Faisal usianya baru 3 tahun, dan yang keempat, Burhan baru 1 tahun.
Mulai dari urusan mandi, terkadang saya mandikan mereka bersama-sama. Namun seringnya mereka maunya mandi sendiri. Berlama-lama di kamar mandi hanya sekedar membasahi mainan, guyuran tanpa memakai sampo atau sabun, atau justru memakai sampo sebanyak-banyaknya dan membiarkan sabun mandi terendam di dalam air itulah yang sering mereka lakukan. Membiarkannya adalah sikap cuek saya jika saya kelelahan dan tak sempat mengurus mereka. Setelah mereka puas baru saya atau suami yang memandikan mereka. Namun terkadang kegiatan mereka itu membuat saya jengkel jika sudah disuruh segera mandi dan cepat keluar dari kamar mandi namun tak digubrisnya. Malah teriak-teriak, bercanda, melempar-lempar air ke saudaranya hingga membuat dapur becek oleh air.
Untuk urusan makan, sebenarnya tidak ada yang merepotkan bagi saya karena menu apapun itu yang penting ada telor, tempe, tahu, atau ikan, Alhamdulillah anak saya mau. Sayuranpun juga mereka tak pernah menolak meski terkadang hanya kuahnya saja yang mau. Menyuapi secara bersamaan Fahmi dan Rehan itu yang sering saya lakukan. Untuk adik-adiknya sering saya pisah karena jadwal keinginan makan mereka berbeda.
Yang merepotkan adalah ketika anak sakit. Satu sakit biasanya satu atau dua saudaranya juga ikut sakit. Jika bersamaan begini sungguh merepotkan bagi saya dan suami. Yang satu rewel yang satu inginnya bermanja-manja. Belum minta ini atau itu. Apalagi jika sampai susah makan. Membuat khawatir! Apalagi waktu Burhan harus dirawat karena tipes. Lima hari menunggu di rumah sakit. Ayahnya harus bolak-balik ke rumah sakit. Malam mengawasi 3 kakak Burhan di rumah. Saya tidak pernah pulang jadi kakak-kakaknya tidak ada yang membuatkan masakan. Sedih rasanya. Ditambah lagi minggu itu harus menyelesaikan raport kelas 7 berdasarkan kurikulum 2013. Rasanya ingin menangis apalagi kalau melihat Burhan disuntik.
Masalah pendidikan, saya sengaja memasukkan Fahmi ke jenjang SD/MIN pada usia 7 tahun karena saya rasa di usia tersebut Fahmi sudah mulai bisa mengikuti pelajaran hingga tahun-tahun berikutnya. Nalarnya akan berbeda dengan anak usia 6 tahun. Benar saja, saya tidak perlu repot mengantar anak ke sekolah karena ia sudah berani tanpa didampingi dan saya sudah percayakan pada jemputan khusus ke sekolahnya. Fahmi juga tidak pernah menyampaikan keiriannya karena teman-temannya masih banyak yang ditunggui oleh orang tuanya. PR pun jika ia mampu mengerjakan sudah tidak perlu meminta bantuan saya untuk membimbingnya. Jika kesulitan, tanpa disuruhpun dia sudah bertanya. Alhamdulillah sebuah anugerah yang tak terperi.
Roihan yang mulai masuk TK di usia 6 tahun sekarang masih belum jelas cara berbicaranya. Rasa malu mengeluarkan suaranya sudah sedikit berkurang dibandingkan ketika masih PAUD kemarin. Mengenal warna, huruf dan angka masih belum hapal, namun untuk menulis ia sudah bisa mandiri. Berangkat sekolahpun sudah tidak diantar tetapi mau berangkat bersama dengan tetangga yang kebetulan juga sekolah di tempat yang sama. Hati ini merasa senang karena sudah ada perubahan dibandingkan dulu ketika masih PAUD yang harus ditungguin. Alhamdulillah perkembangan bersosialnya cukup baik. Sudah mulai akrab berteman dan tidak malu-malu ketika disuruh maju ke depan.
“Ibu, ibu aku mau beli kasul!” kalimat ini sering sekali diucapkan oleh Roihan. Ia ingin sekali tempat tidur Spyderman sorong yang bisa digunakannya untuk loncat-loncat.  Keinginan itu selalu muncul kalau diajak naik motor dan ia melihat ada toko furniture.  Setiap mendengar itu selalu kukatakan, “Ya, doakan ibu dan ayah uangnya banyak ya, ntar kita beli kasur.” Hati sebenarnya teriris kala mendengar permintaannya. Kami selalu mengharapkan ia mau berdoa, kemudian tidak banyak jajan sehingga kita bisa menabung dan membeli apa yang kita inginkan.
Lain cerita dengan Fahmi yang selalu terobsesi untuk menjadi Masinis. Apa yang berhubungan dengan kereta selalu menarik perhatiannya. Entah itu berupa mainan, berita tentang kereta, atau tentang kepulangan kami ke kampung yang selalu naik kereta.
“Bu, kita naik kereta apa?”
“Gaya Baru.”
“Warnanya apa?
“Apa ya, ibu lupa!”
“Kuning ya bu.”
“Terus baliknya naik apa?”
“Bangunkarta.”
“Bangunkarta warnanya putih ya Bu, kayak yang dulu itu.”
“Ya.”
Dialog itupun terus saja berlanjut tentang kereta-kereta lain yang pernah kita naiki ketika pulang kampung tahun lalu.
Selain suka dengan kereta, Fahmi juga suka membaca dan menulis, namun tidak pernah bisa lama. Saya sudah mencoba membelikan buku cerita dan yang terbaru antara lain: Little Miss Perfect karya Putri Salsa, Reporter Cilik karya Shara, Best Friends Forefer karya Putri Salsa, Bad Dreams & Hot Chocolate, karya penulis Best Seller KKPK, dan Trio Behel: Popular Wannabe karya Putri Salsa, Diandra Anindyanari,  Raihana Abida dkk. Meski baru beberapa lembar membaca kemudian sudah merasa capek, namun paling tidak kemauan membacanya sudah ada. Jika Fahmi sering membaca, pasti ibunya ini akan semakin bersemangat untuk membelikan buku-buku yang lain.” Semangat kakak! Jangan malas!”

0 komentar: