Senin, 08 Desember 2014

Melati Ibuku

Namaku Fahmi. Umur 8 tahun. Bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah Negeri kelas 2. Aku tidak  tahu mengapa di sekolahkan di situ oleh ibu, padahal semua teman TK-ku sekolah di SD Negeri yang tidak begitu jauh dari rumah. Meski begitu, aku suka karena mendapat teman banyak dan guru yang baik.
Suatu hari, aku dan Rehan ditinggal ayah dan ibu mengantar adik keempat, Burhan untuk berobat. Ayah menyuruhku menyiram bunga melati kesayangan ibu jika hari menjelang sore. Aku senang jika ditinggal  pergi agak lama, aku dan Rehan pasti diberi uang tambahan untuk jajan. Kami juga bisa bermain dan nonton TV sepuasnya. Biasanya ayah pasti marah-marah kalau aku nonton TV  terus hingga malas belajar. Pasti kabel televisi atau antenanya dicabut jika aku masih terus nonton. Satu hal lagi yang kusuka, aku boleh pinjam laptop ibu untuk belajar menulis, bermain game, atau nonton video ‘Syamil dan Dodo’.
“Ibu perginya lama ga? Aku pinjam laptopnya ya!”
“Ya, tapi nanti naruhnya jangan asal ya, jangan ditaruh di bawah lagi. Nanti keinjak,” ucap ibuku sembari memberikan uang tambahan jajan.
“Ingat jangan jajan es! Dan jangan lupa ya siram bunga melatinya!” Ayah memperingatkan.
“Iya ya. Ihhh.”
Kenapa sih aku selalu dilarang jajan es padahal kan seger, manis, dan enak. Dan lagi kalau aku habis jajan es pasti ayah dan ibu tahu.
“Fahmi tadi beli es ya di sekolah?”
“Enggak.”
“Yang benar? Itu batuk, jajan apa kalau bukan es?”
Sambil malu-malu aku jawab, “hehehe, ya.”
Habis itu pasti ibuku ngomel-ngomel. Aduh kalau ingat itu maunya sih tidak jajan es. Malas kena omelan ibu terus.
Ayah biasanya menyiram bunga setelah asar. Enaknya sholat dulu apa siram-siram bunga dulu ya? Main laptopnya kapan? Pikirku sambil nonton film ‘Marsha and The Bear’ di televisi.
“Rehan, siram-siram bunga dulu yuk, terus nanti kita mandinya ga usah lepas baju. Kayak berenang, main pancuran. Mau ga? Seru kan.”
“He eh, mau, mau. Ayo.”
“Entar dulu, ishh. Tunggu sponsor dulu,” sambil kudorong Rehan agar duduk kembali.
“Ihh, mas Fahmi, ma, sakit tahu.”
“Ya ya ish, maaf. Makanya duduk dulu.”
Begitu sudah sponsor, langsung kumatikan televisi dan mulai menyalakan kran yang sudah dipasangi selang oleh ayah tadi sebelum berangkat.
Melatinya banyak yang masih kuncup. Bunganya banyak. Aku tidak tahu mengapa ibuku suka bunga melati. Katanya sih wangi. Haish, mana katanya wangi, setelah kucoba memetik kuncup melati dan menciumnya.
“Mas jangan diambilin geh. Ga boleh diambil kalau masih kecil. Kalau udah mekar boleh diambil kata ibu,” Rehan melarangku.
“Ya udah, yuk kita siram.” Segera kuarahkan selang ke pohon-pohon melati di samping rumah. Sesekali kusemprotkan air ke arah atas sehingga agak lama jatuh ke pohon melatinya. Melihat itu Rehan senang dan berusaha meloncat meraih air yang kusemprot. Aku juga senang memainkan selang airnya hingga baju Rehan sedikit basah. Kami tertawa senang. Ternyata menyiram bunga itu menyenangkan.
Setelah puas bermain air sambil menyiram bunga melati, kami berdua kembali bermain air di kamar mandi. Pancuran showernya kunyalakan, pancuran air yang buat wudhu juga dinyalakan. Jalan tempat pembuangan airnya ditutup menggunakan bajuku. Dan jadilah kamar mandi seperti kolam renang meski cuma sebatas mata kaki. Aku senang sekali, Rehan juga.
“Fahmi! Cepat mandinya! Main aja dari tadi. Itu mandi apa mandi?” ayahku berteriak.
Aku kaget. Ayah pulang lebih cepat dari yang kukira. Segera kami membuka penutup selokan yang kubuat tadi. Kami segera  memakai sabun dan sikat gigi. Rehan kuambilkan sikat gigi karena dia belum bisa menjangkau tempat sikat gigi. Setelah memakai baju dan sholat, aku duduk di sebelah ibu di teras samping rumah.
“Fahmi tadi yang menyiram bunganya ya. Makasih ya. Lihat itu bunganya agak sedikit mengembang. Mungkin nanti malam baru mekar,” tutur ibu sambil menunjuk ke arah melati kesayangannya.
Aku tersenyum bangga bisa membuat ibuku senang. “Ya, besuk lagi, Fahmi aja yang menyiramnya Bu.”
“Aku juga mau bantu Mas Fahmi, Bu.” Adikku Roihan ikut-ikutan.
“Atu juja, Mas!” Faisal ikut nimbrung. Tahu juga enggak apa yang kami bicarakan. Heh dasar Faisal masih kecil.
Ibuku hanya tersenyum bahagia memandang kami semua.

Memoar: Suamiku Hebat

“Bu, di blog G banjir seleher!” Bbm suami setelah kasih tahu bahwa di rumah hujan disertai petir. Aku menyesal balasnya hanya lewat bbm, tidak meneleponnya. “ Wah, kok bisa, di rumah gimana? Anak-anak gimana? Tidak ada balasan dari ayah.
Minggu ini 13 April 2014, aku tidak menemani anak-anak di rumah karena mengikuti “Asma Nadia Writing Workshop” dari pukul 09.30-15.30 sehingga 4 anakku yang masih kecil-kecil ditemani ayahnya. Meskipun sebenarnya hampir tiap hari juga ditemani ayahnya jika ayahnya tidak ada kerjaan (maklum freeland). Tapi beda kalau minggu harusnya aku menemani mereka.
Aku sampai di rumah pukul 21.30 dan disambut dengan lampu mati dan suami di depan rumah dengan senternya. Anak-anak sudah tidur. Mereka tidur berjejer berempat di kasur lantai ruang tamu karena lampu mati. Biasanya Fahmi dan Roihan tidur di kamar mereka sendiri.
“Banjir Bu tadi sampai masuk rumah.”
“Hah, kok ga cerita. Kalau cerita kan aku pulang cepat meski belum selesai.”
Suami sebenarnya udah balas bbm, hanya saja tandanya masih centang, jadi? Ya jelas aku ga tahu. Mungkin karena paniknya, suami lupa atau tidak memerhatikan kalau tandanya masih centang yang berarti belum terkirim. Andai sudah tanda D berarti sudah dikirim, kalau sudah R berarti sudah dibaca. Kalau sudah tanda R, dan ga ada respon dariku berarti aku yang keterlaluan. Tapi tetap jadi merasa ga enak sama suami. Sudah terjadi, aku masih bersyukur mereka semua diberi keselamatan. Mudah-mudahan ada hikmah dari kejadian ini.
Yang aku salut banget, ketika hujan mengguyur selama 4 jam lebih sehingga terjadi banjir, suami harus antisipasi sendiri. Fahmi, anak pertama yang usianya 7,5 tahun diajak bantu apa saja. Mulai angkat barang-barang yang ada di bawah, jagain Burhan yang paling kecil baru 7 bulan di kamar belakang, sementara ayahnya menguras air banjir supaya cepat surut dan mengepel. Bisa dibayangkan betapa repotnya suamiku. Jagain anak-anak aja sudah repot apalagi sampai harus menghadapi banjir. Hebat deh! Top! Jadi makin sayang suami! I love you ayah!
Apalagi Faisal pakai acara panas lagi. Soalnya ia suka kecipak-kecipik air banjir. Lain lagi cerita tentang si Roihan anak kedua. Disuruh bantu ini ga mau, itu ga mau, maunya Cuma jagain adiknya, Burhan.
Aku tidak bisa membayangkan deh bagaimana ekspresi suami mengatasi semua itu. “Salut, Ayah! Love you full.”
Apalagi keesokan harinya Fahmi membangunkanku untuk sholat subuh. “Bu, bangun bu, udah subuh,” Bisiknya. “Hem, ya!” “Bu, tahu ga bu, kemarin banjir lo! Aku bantuin ayah. Ibu ke mana sih?”
 Ya Allah, serasa berhenti jantungku mendengar ucapan anakku. “Ya, maafkan ibu ya, ibu kemarin workshop.” Namanya anak ya belum paham apa itu workshop jadi berendeng pertanyaan menghujamku. Dengan berbagai jawaban yang mungkin bisa diterimanya akhirnya ia menyudahi pertanyaannya.
Kejadian banjir ini mengingatkan aku pada banjir pertama kali yang aku alami di kontrakan sekitar Pasar Empang, Cengkareng. Awal 2007, Fahmi baru beberapa bulan. Setiap hujan turun, kita tidak bisa tidur dengan tenang berbeda dengan yang dilakukan suami kemarin. Ia dan anak-anak tidur sehingga agak terlambat mengetahui kalau banjir karena selama kami tinggal di perumahan ini belum pernah kebanjiran.
Sejak kejadian itu aku jadi semakin sayang suami dan anak anak. Suami agak heran (sambil mengernyitkan muka) ketika aku sering mengucap kata sayang untuknya dan anak-anak.


Hilang Bentuk



hidupmu laksana badut berhidung merah
berjalan dengan kostum besar buat mereka tertawa
wajah dirias lucu buat anak-anak senang
mereka tak peduli rasamu
yang terpenting gayamu
dukamu kau pendam sendiri
di sebuah rel kereta
inginmu menggelora
membuang duka dan lara
perlahan kaususuri rel itu menuju lorong gelap
tiba-tiba kaurasa duniamu gelap
sakit itu hilang bentuk
remuk
Tangerang, 23112014

Rujak Cingur Khas Jawa Timur

Rujak cingur khas Jawa Timur. Enak, apalagi mencoba membuatnya sendiri, maknyus.
Rujak cingur diracik menggunakan bumbu: seiris bawang putih, satu sendok petis udang, beberapa butir kacang tanah, cabe sesukanya, ditambah garam serta gula, dan tidak lupa asam jawa secukupnya.
Yang dirujak antara lain: timun, bengkuang, pisang klutuk, tempe, tahu, cingur( bisa diganti dengan kikil), sayuran kangkung bisa ditambah sayuran/ buah lain misal taoge, kacang panjang, mungkin kalau ada nanas juga enak.
Semua bumbu diuleg/dihaluskan kemudian diberi air matang sedikit. Setelah itu semua buah diiris langsung di atas bumbu dan jangan lupa sayuran, tahu, tempe, dan cingur juga. Bumbu diratakan dengan bahan rujak. Rujak siap dihidangkan dalam piring.

Madu Mongso. Kue olahan khas Jawa Timur

Lebaran tak lengkap rasanya tanpa madu mongso terhidang di meja tamu ibuku
Semua sepupu, paman, keponakan, serta anakku menyukainya
Jika tak terhidang waktu lebaran pasti ada pertanyaan, "tidak buat madu mongso?"

Proses pembuatan membutuhkan kesabaran
Mulai dari 'nyoso' ketan hitam supaya tidak 'nglenis' alias keras ketan hitamnya. 'Nyoso' itu dengan cara menguleg ketan hitam bukan bermaksud menghaluskan namun untuk membuang kulit arinya.
Ketan hitam yang sudah disoso selanjutnya dicuci kemudian direndam. Ketan putih dicuci terpisah dan dimasak terpisah.
Proses lanjutannya adalah memasak ketan hitam di dandang kemudian diangkat diberi air agak banyak (dikaru) kemudian dimasak di panci dengan ditambah gula dengan perbandingan 1 kg ketan gulanya 2 ons kemudian dimasak lagi di dandang. Ketan putih dimasak terpisah bedanya dimasak di dandang kemudian diangkat dipanci diberi air (istilahnya dikaru) langsung dimasak lagi di dandang, setelah keduanya masak, dicampur, didinginkan dan diberi ragi supaya menjadi tape. Kurang lebih butuh waktu 3 hari.
Pengolahan terakhir dengan mencampur tape dengan santan kani yang direbus ditambah dengan gula. Ukurannya sebenarnya menurut selera semakin banyak kelapa semakin bagus. Perbandingannya begini, untuk 1 kg ketan kelapanya 1 butir ukuran besar atau sedang, gulanya 4 ons. Campuran tape, santan kani, dan gula diaduk di atas api besar supaya cepat. Adonan madu mongso terlihat jadi setelah aroma sedapnya terasa, adukannya sudah berat, dan di pegang sudah tidak lengket (istilahnya: nglengo, jawa, red). Diangkat, didinginkan, baru bisa dibungkus sesuai selera.

Mungkin bagi sebagian orang setelah tahu prosesnya dirasa terlalu bertele-tele. Tiap individu bisa berbeda proses pembuatannya dan aku yakin rasanya juga berbeda. Tapi itulah yang terjadi, kehidupan ini pun juga begitu, hasil mungkin hampir sama tapi rasanya pasti berbeda karena proses kehidupan yang kita jalani juga berbeda.

Terdekat dan Terjauh

Terdekat dan Terjauh
Imam ghozali bertanya pada muridnya.
Apa yang paling jauh d dunia ini? Mereka menjawab berdasarkan pengetahuan mereka, Ada yang menjawab bintang, matahari dan lain-lain. Imam ghozali menjawab bahwa itu semua benar adanya jika dilihat dari kenyataan hidup, tapi hakekatnya yang paling jauh adalah masa lalu.
Kita tidak bisa kembali ke masa itu. Sedetik telah berlalu itupun sudah jadi masa lalu.
Imam ghozali bertanya pada muridnya,
Siapa yg paling dekat dengan kalian? Ada yang menjawab: ayah, ibu, teman, adik, kakak dan lain-lain. Imam ghozali berkata, itu benar semua jika dilihat dari kehidupan kita, tapi hakekatnya yang paling dekat dengan kita adalah ajal. Kita tidak tahu kapan, dimana, dan bagaimana kita meninggal.

Quotenote: Hidup Itu Pilihan

Hidup itu pilihan. Apa yg kita inginkan akan tercapai jika kita berdoa sungguh-sungguh dari hati, ada niat, dan berbuat semaksimal mungkin memberdayakan kemampuan serta belajar dari alam, teman, media, lingkungan, dan guru.

Memoar: Kegagalan dalam Berbisnis

Cita-cita menjadi guru sudah tercapai. Namun tak berhenti disini, masih terus tumbuh cita-cita baru, menjadi pengusaha serta penulis. Guru yang penulis atau guru yang pengusaha atau justru guru yang penulis serta pengusaha.
Dulu sebelum menjadi guru seperti sekarang banyak kegagalan yang kulalui. Jika sekarang bisnisku mengalami kegagalan, itu berarti prosesku menuju keberhasilan nanti. Diam di tempat tak berarti berhenti selamanya tapi aku perlu introspeksi dan belajar.

Panggilan ke Sekolah Anakku

Handphone berdering kencang memecah suasana kelas. Segera kulihat, ternyata wali kelas putriku di SMK 2. “Bisa datang ke sekolah hari ini, Bu. Penting.” Suara Bu Ayu terdengar jelas. Ya, Bu, saya usahakan.” Tanpa basa-basi lagi segera kuakhiri telepon itu. Segera kuberi tugas kelompok pada kelasku ini dan berpamitan pada guru piket.
Sesampainya di ruang BP, aku melihat di situ telah ada bu Ayu dan putriku, Safa. Aku kaget setengah mati kenapa Safa ada di sekolah ini? Sifa mana? Belum terjawab kebingunganku, telepon bordering dan kini dari wali kelas Safa di SMK 8. Beliau memintaku untuk datang ke sekolahnya juga. Seolah tahu kebingunganku, Bu Ayu segera menjelaskan maksud panggilan ini. Safa dan Sifa bertukar tempat sekolah. Oh, kini kupaham itu. Masalahnya hanya karena Safa pendiam dan tidak berani melawan temannya yang usil.
“Sifa membuat hidung Aldi berdarah karena jotosannya,” cerita ayah yang kuminta datang ke SMK 8.

Memoar: Anakku, Semangat dan Napasku



Awal Pernikahan
Menjadi seorang ibu adalah dambaan semua wanita yang sudah menikah. Begitu pula dengan dambaan memiliki anak, menjadi sebuah pengakuan akan sebutan sebagai ibu. Menikah kemudian langsung diberi kesempatan untuk hamil merupakan sebuah anugerah yang tak terkira.
Begitu pula dengan pernikahan saya 9 tahun silam. Pernikahan kami dilaksanakan pada pertengahan tahun 2005. Tanpa berpacaran. Kami menikah bukan karena terpaksa atau pilihan orang tua, tapi memang atas persetujuan saya setelah ia menyatakan menyukai saya dan siap melamar saya. Kehamilan adalah masa yang kami tunggu-tunggu setelah menikah.
Tapi sayang kehamilan pertama saya mengalami keguguran. Sungguh penyesalan yang tiada terkira. Saya menyesal karena pasca menikah saya kurang memperhatikan mana minuman yang sebenarnya tidak diperbolehkan untuk wanita yang hamil,  salah satunya minuman yang bersoda. Karena baru terlambat satu bulan, saya belum sempat periksa ke dokter, hanya melakukan tes menggunakan tespek, itupun hasilnya samar-samar. Sehingga timbul keraguan apakah saya hamil atau tidak. Saya berencana periksa bulan berikutnya. Namun apa mau dikata sebelum sempat periksa di bulan berikutnya saya sudah mengalami flek selama berhari-hari hingga keguguran. Dan catatan terpenting penyebab keguguran saya karena saya sempat pijit urut. Ketidaktahuan sungguh sebenarnya tidak bisa jadi alasan, namun nasi sudah menjadi bubur. Saya menyesal apakah saya keguguran murni hanya karena alasan di atas atau yang lain. Ataukah karena punya salah terhadap orang-orang terdekat? Saya pun berusaha meminta maaf pada orang tua, mertua dan suami. Dan akhirnya satu hal lagi penyebab keguguran saya yang saya ketahui 2/3 tahun kemudian yaitu karena saya jengkel teramat sangat terhadap suami. Itupun saya tahu setelah sering mendengar ceramah ustad Danu di TPI. Dan tidak bisa dipungkiri memang saya waktu itu sangat jengkel terhadap suami dan saya pendam karena hampir setiap malam saya dibuat menangis sedih oleh kata-katanya. Setelah itu akhirnya saya dan suami sepakat jika ada yang mengganjal di hati, kita harus saling komunikasi. Dan Alhamdulillah sampai sekarang hingga punya 4 jagoan kami masih saling komunikasi jika ada yang tidak berkenan di hati. Pertengkaran kecil kadang terjadi namun Alhamdulillah selalu bisa diatasi.
Pepender
Berawal dari diskusi bersama teman sembari ditemani cemilan snaks jagung.
“Kalau makan snaks ini saya jadi ingat waktu kuliah dan ingat almarhum teman saya, dia suka banget snaks ini!”
Aku mengangguk-angguk sambil tersenyum. Beliau bercerita bagaimana persahabatannya dulu dengan selalu berkirim surat dan diakhir surat selalu tertulis kata ‘pepender’. Beliau baru tahu pepender itu singkatan dari perempuan penuh derita setelah sahabatnya itu meninggal dunia. Ini pun tahunya dari teman yang lain.
Selanjutnya beliau bercerita bagaimana sahabatnya dulu mengalami penderitaan setelah melahirkan anak pertama. Entah salah siapa, pasca melahirkan normal sahabatnya ini mendapat jahitan luar dalam. Selang beberapa bulan setiap berhubungan suami istri, ia merasakan sakit. Cek ke dokter pun dilakukan dan ternyata sudah terjadi pembusukan jahitan dalam vagina. Saya jadi heran kok bisa terjadi pembusukan ya? Kenapa? Tapi saya tidak menemukan jawaban dari teman saya itu. Ia justru bercerita bagaimana suasana dan keadaan sahabatnya ketika dirawat di rumah sakit. Jadi intinya penderitaan yang terberat itu bukan di sakit inveksi jahitan/pembusukan jahitannya tapi lebih ke batinnya.
“Suami sahabatku selalu menunggu sahabatku (sebut saja namanya  Dina) di rumah sakit dan di situlah awal penderitaan batin Dina. Perawat yang menangani Dina ternyata adalah pacar lama suaminya. Mereka semakin akrab dan ternyata cinta lama bersemi kembali. Dalam kepura-puraan tidur Dina sering mendengar kemesraan mereka.”
Sungguh perjuangan seorang ibu melahirkan seorang anak itu tidak hanya pra melahirkan saja tapi pasca melahirkan pun masih penuh perjuangan untuk bisa mempertahankan dirinya agar dapat  merawat anak dan melayani suami.
Saya jadi teringat pesan ibu setiap saya selesai melahirkan. Saya harus duduk dengan benar, selonjor, dan yang selalu diwanti-wanti adalah tidak boleh tiduran di bawah atau tidur terlentang. Ibu khawatir jika anak saya yang besar secara tiba-tiba memeluk atau menubruk perut saya. Bisa fatal akibatnya karena ada kejadian yang sampai meninggal gara-gara itu.
Berdasarkan cerita teman saya tadi sebenarnya belum terlihat bagaimana sahabatnya itu penuh derita karena memang tidak ada yang tahu semenderita apa dia. Mungkin saya bisa mengambil simpulan bahwa ia termasuk orang yang lebih suka memendam perasaannya daripada menceritakannya pada orang lain. Sebenarnya menceritakan aib suami memang tidak boleh namun setidaknya ia bisa menceritakan keluh kesahnya lewat tulisan sehingga beban pikirannya sedikit berkurang misalnya lewat buku harian, insyaAllah tidak diketahui orang banyak.
Apapun anggapan kita terhadap diri kita itulah yang akan terjadi. Bisa jadi anggapan perempuan penuh derita terus menerus diucap dan didengungkan dalam diri perempuan itu secara tidak langsung itu akan menjadi doktrin dan bisa jadi sebuah doa yang jelek. Itulah yang akhirnya membuat saya lebih terbuka lagi dengan berbesar hati menerima segala masalah yang saya hadapi baik berhubungan dengan anak maupun yang lain. Kesiapan menghadapi masalah,  kesiapan memecahkan masalah, serta kesiapan mencari berbagai solusi terbaik sungguh diperlukan oleh seorang ibu.

Berbisnis
Saya teringat akan status facebook saya beberapa waktu yang lalu, di saat bisnis yang baru mulai saya rintis ternyata mengalami kendala. Berani berbisnis berarti harus berani menerima segala resiko yang berhubungan dengan bisnis itu dan harus siap menghadapinya.
Berikut ini statusnya:
Bos Terkaya

Bisnisku mengalami apa ya namanya. Ada yang tahu? Baru mulai bisnis po hp, sudah empat kali memesan barang, yang datang cuma pesanan pertama, pesanan selanjutnya diundur bulan berikutnya. Sudah tiba estimasinya diundur lagi begitu seterusnya, sampai lupa sudah berapa kali diundur. Sampai sekarang pun hpnya belum kunjung datang.
Pembeliku sudah tidak sabar, ada yang kejar-kejar dengan mengirim bbm, sms, ada jua yang mau sabar. Aku sendiri sudah tidak sabar menunggu, bayangkan transfer dari bulan maret dan april 2014, sampai bulan juli 2014 pesanan tidak kunjung datang. Apa yang Anda bayangkan?
Aku membatalkan pesanan dan meminta uang kembali, serta membatalkan penjualan dan berjanji akan mengembalikan uang secepatnya.
Tapi apa mau dikata, uang belum jua kuterima. Pembeliku sudah tidak sabar. Ada 9 orang yang sudah aku kembalikan uangnya. Meskipun ada 3 orang yang kurang, belum 100% maksudku. Masih ada 5 orang lagi yang belum dapat transferan dariku. Sebenarnya mereka juga ingin duitnya cepat balik, tapi aku memohon dan meminta mereka  sabar karena memang aku sudah tidak pegang uang.
Buat tambahan, motorku dijual, untung bukan rumah. Punyanya juga itu. Ajuan pinjaman koperasi dapatnya bulan depan. Oooo pusing mungkin ya aku. Tapi aku kok tidak tahu ya kalau pusing. Hah pusing. (Loh, tuh bilang pusing)
Apa yang harus kulakukan?
Aku baru sadar, aku kan punya bos besar. Mengadu sih udah, mungkin kurang kenceng kali.
Tapi aku yakin bosku yang terkaya di dunia ini tidak akan membiarkan aku tidak bisa menghadapi ini. Aku pasti bisa. Allah azza wajalla. KepadaMu aku memohon pertolongan.

Maksud hati ingin berbisnis untuk menambah penghasilan supaya kebutuhan kami terpenuhi secara layak namun ternyata jika ilmu berbisnis kurang dikuasai ya begitulah jadinya. Saya jadi ingin membaca buku karya Dewa Eka Prayoga yang berbicara tentang 7 Kesalahan Fatal Pebisnis Pemula supaya saya tidak tertatih-tatih dan terseok-seok ketika kembali memulai bisnis. Namun jika dingat kembali sebelum saya memulai bisnis ini, saya sudah belajar dari buku “Tembus Omset 100 Juta lewat Blackberry” karya Dewa Eka Prayoga. Berarti sebenarnya bukan cara menjalankan bisnisnya yang salah tetapi memilih supplyer bisnisnya yang kurang tepat. Sudah ada beberapa teman yang mengingatkan bahwa bisnis ini tidak rasional karena barangnya asli dan bergaransi resmi namun bisa dijual dengan harga murah. Telusur sana sini setelah ada gosib bisnis ini bermasalah, ternyata bisnis ini ada yang menyebutnya menggunakan system Ponzi.
Usaha tetap saya lakukan untuk mendapatkan uang saya kembali dan usaha itu tidak saya lakukan sendiri tapi tentu bekerjasama dengan teman seperjuangan yang juga mengalami hal yang sama dengan saya dengan mengharapkan bantuan berbagai pihak. Intinya tidak ada kata menyerah!
Penyemangat bisnisku adalah keempat anakku.
Anakku

Lelah, letih tubuh ini
Terobati kala melihat anak-anak menyambut ceria

Ibu! Ibu!
Kangen.

Pandangan mata tanpa dosa itu meneduhkan
Rengekan ini itu meramaikan
Senyum, tawa, teriakan, bercampur baur tak tergantikan

Penyemangat serta Napasku
Mendidik anak laki-laki 4 orang dengan usia yang relatif berdekatan terkadang membuat saya kewalahan. Banyak hal-hal kecil yang terabaikan. Anak pertama, Fahmi sekarang berusia 8 tahun, kelas 2 MIN. Anak kedua, Roihan berusia 6 tahun baru masuk TK. Yang ketiga, Faisal usianya baru 3 tahun, dan yang keempat, Burhan baru 1 tahun.
Mulai dari urusan mandi, terkadang saya mandikan mereka bersama-sama. Namun seringnya mereka maunya mandi sendiri. Berlama-lama di kamar mandi hanya sekedar membasahi mainan, guyuran tanpa memakai sampo atau sabun, atau justru memakai sampo sebanyak-banyaknya dan membiarkan sabun mandi terendam di dalam air itulah yang sering mereka lakukan. Membiarkannya adalah sikap cuek saya jika saya kelelahan dan tak sempat mengurus mereka. Setelah mereka puas baru saya atau suami yang memandikan mereka. Namun terkadang kegiatan mereka itu membuat saya jengkel jika sudah disuruh segera mandi dan cepat keluar dari kamar mandi namun tak digubrisnya. Malah teriak-teriak, bercanda, melempar-lempar air ke saudaranya hingga membuat dapur becek oleh air.
Untuk urusan makan, sebenarnya tidak ada yang merepotkan bagi saya karena menu apapun itu yang penting ada telor, tempe, tahu, atau ikan, Alhamdulillah anak saya mau. Sayuranpun juga mereka tak pernah menolak meski terkadang hanya kuahnya saja yang mau. Menyuapi secara bersamaan Fahmi dan Rehan itu yang sering saya lakukan. Untuk adik-adiknya sering saya pisah karena jadwal keinginan makan mereka berbeda.
Yang merepotkan adalah ketika anak sakit. Satu sakit biasanya satu atau dua saudaranya juga ikut sakit. Jika bersamaan begini sungguh merepotkan bagi saya dan suami. Yang satu rewel yang satu inginnya bermanja-manja. Belum minta ini atau itu. Apalagi jika sampai susah makan. Membuat khawatir! Apalagi waktu Burhan harus dirawat karena tipes. Lima hari menunggu di rumah sakit. Ayahnya harus bolak-balik ke rumah sakit. Malam mengawasi 3 kakak Burhan di rumah. Saya tidak pernah pulang jadi kakak-kakaknya tidak ada yang membuatkan masakan. Sedih rasanya. Ditambah lagi minggu itu harus menyelesaikan raport kelas 7 berdasarkan kurikulum 2013. Rasanya ingin menangis apalagi kalau melihat Burhan disuntik.
Masalah pendidikan, saya sengaja memasukkan Fahmi ke jenjang SD/MIN pada usia 7 tahun karena saya rasa di usia tersebut Fahmi sudah mulai bisa mengikuti pelajaran hingga tahun-tahun berikutnya. Nalarnya akan berbeda dengan anak usia 6 tahun. Benar saja, saya tidak perlu repot mengantar anak ke sekolah karena ia sudah berani tanpa didampingi dan saya sudah percayakan pada jemputan khusus ke sekolahnya. Fahmi juga tidak pernah menyampaikan keiriannya karena teman-temannya masih banyak yang ditunggui oleh orang tuanya. PR pun jika ia mampu mengerjakan sudah tidak perlu meminta bantuan saya untuk membimbingnya. Jika kesulitan, tanpa disuruhpun dia sudah bertanya. Alhamdulillah sebuah anugerah yang tak terperi.
Roihan yang mulai masuk TK di usia 6 tahun sekarang masih belum jelas cara berbicaranya. Rasa malu mengeluarkan suaranya sudah sedikit berkurang dibandingkan ketika masih PAUD kemarin. Mengenal warna, huruf dan angka masih belum hapal, namun untuk menulis ia sudah bisa mandiri. Berangkat sekolahpun sudah tidak diantar tetapi mau berangkat bersama dengan tetangga yang kebetulan juga sekolah di tempat yang sama. Hati ini merasa senang karena sudah ada perubahan dibandingkan dulu ketika masih PAUD yang harus ditungguin. Alhamdulillah perkembangan bersosialnya cukup baik. Sudah mulai akrab berteman dan tidak malu-malu ketika disuruh maju ke depan.
“Ibu, ibu aku mau beli kasul!” kalimat ini sering sekali diucapkan oleh Roihan. Ia ingin sekali tempat tidur Spyderman sorong yang bisa digunakannya untuk loncat-loncat.  Keinginan itu selalu muncul kalau diajak naik motor dan ia melihat ada toko furniture.  Setiap mendengar itu selalu kukatakan, “Ya, doakan ibu dan ayah uangnya banyak ya, ntar kita beli kasur.” Hati sebenarnya teriris kala mendengar permintaannya. Kami selalu mengharapkan ia mau berdoa, kemudian tidak banyak jajan sehingga kita bisa menabung dan membeli apa yang kita inginkan.
Lain cerita dengan Fahmi yang selalu terobsesi untuk menjadi Masinis. Apa yang berhubungan dengan kereta selalu menarik perhatiannya. Entah itu berupa mainan, berita tentang kereta, atau tentang kepulangan kami ke kampung yang selalu naik kereta.
“Bu, kita naik kereta apa?”
“Gaya Baru.”
“Warnanya apa?
“Apa ya, ibu lupa!”
“Kuning ya bu.”
“Terus baliknya naik apa?”
“Bangunkarta.”
“Bangunkarta warnanya putih ya Bu, kayak yang dulu itu.”
“Ya.”
Dialog itupun terus saja berlanjut tentang kereta-kereta lain yang pernah kita naiki ketika pulang kampung tahun lalu.
Selain suka dengan kereta, Fahmi juga suka membaca dan menulis, namun tidak pernah bisa lama. Saya sudah mencoba membelikan buku cerita dan yang terbaru antara lain: Little Miss Perfect karya Putri Salsa, Reporter Cilik karya Shara, Best Friends Forefer karya Putri Salsa, Bad Dreams & Hot Chocolate, karya penulis Best Seller KKPK, dan Trio Behel: Popular Wannabe karya Putri Salsa, Diandra Anindyanari,  Raihana Abida dkk. Meski baru beberapa lembar membaca kemudian sudah merasa capek, namun paling tidak kemauan membacanya sudah ada. Jika Fahmi sering membaca, pasti ibunya ini akan semakin bersemangat untuk membelikan buku-buku yang lain.” Semangat kakak! Jangan malas!”

Kamis, 04 Desember 2014

Media Sosial sebagai Ajang Pegembangan Diri

Media Sosial Sebagai Ajang Pengembangan Diri.
Media sosial sebenarnya banyak manfaatnya jika kita tahu cara menggunakan dan mengeksplore manfaatnya. Pertama, dimulai dari  mencari teman di dunia maya. Selain teman-teman yang kita kenal di dunia nyata yang bisa kita tambah untuk menjadi teman di sosial media, teman yang sama sekali tidak kita kenal pun bisa kita jadikan teman akrab di media sosial jika diskusi-diskusi dan pemikiran hampir sama, sependapat atau sejalan.
Kedua selektif mencari teman itu perlu karena kita dilihat dan dinilai itu juga berdasarkan siapa teman kita. Kalau teman kita baik, paling tidak akan membawa dampak yang baik bagi kita. Kalau teman kita semangat, itu juga akan berpengaruh pada kita. Kalau teman kita rajin, lama-kelamaan kita juga akan ikut rajin.
Keempat, jika memiliki hobi, profesi, atau cita-cita, carilah komunitas/wadah/grup yang berhubungan dengan hobi, cita-cita atau profesi kita. Komunitas itu akan membawa kita pada beberapa perubahan yang positif jika kita benar-benar aktif.

Minggu, 19 Oktober 2014

Fiksimini: Menunggu Suling

Fiksimini: Menunggu Suling. Pulang kampung yang dinanti telah tiba. Aku, suami dan anak-anak pulang naik kereta ekonomi Gaya Baru Malam insyaallah besuk tanggal 20 Juli 2014.
Satu hal yang berbeda dengan tempat lain di Jombang, Jawa Timur adalah bunyi suling. Bunyi ini pun ada hanya di bulan puasa. Aku kangen bunyi itu.
Aku teringat tahun lalu ketika anakku, Fahmi baru belajar puasa. "Bu, kok lama sih azdannya aku udah haus."
"Ntar ya, sebentar lagi."
"Lama ya sulingnya, sudah ada yang dengar belum?" sela adikku, Amir.
Fahmi penasaran dan bertanya, "Suling itu apa Om?" belum sempat adikku menjawab, tidak berapa lama terdengarlah bunyi suling yang menyerupai bunyi 'ngiiing' yang cukup panjang.
Anakku kaget, kok semua buru-buru buka puasa. "Om belum azdan!" "Udah suling Fahmi," jelas adikku. Dia masih protes padaku kok semua buka puasa sebelum dengar adzan.
Kami semua tertawa, dan ayahnya menjelaskan bahwa kalau di Jombang itu ada bunyi suling sebagai pertanda waktu berbuka dan waktu imsak.

Rabu, 17 September 2014

Melirik Bisnis Online

Melirik Bisnis Online
Jualan Online
Bisnis online kini semakin banyak yang melirik. Mulai dari mereka yang memang sudah punya bisnis sampai mereka yang sama sekali belum pernah bergelut dengan bisnis.
Anda yang belum pernah berbisnis tak perlu takut jika ingin ikut melirik bisnis online juga. Bisnis ini bisa dimulai meski tak punya modal. Dropship merupakan alternatif memulai bisnis tanpa modal. Mulai dengan mencari supplyer, kemudian menyampaikan maksud hendak menjadi reseller dengan sistem dropship. 

Dropship
Kelebihan dropship antara lain:
1. Kita tidak perlu modal karena ketika ada pesanan dari customer dan customer telah mentranfer uangnya baru kita transfer ke supplyer.
2. Kita tidak perlu repot packing barang, karena alamat kiriman langsung ditujukan ke customer dan nama pengirim sudah menggunakan nama kita bukan nama supplyer.
3. Tidak rugi waktu untuk mencari barang yang hendak dijual.
4. Tidak ada barang menumpuk di gudang karena memang tidak menimbun barang.
Kekurangan sistem dropship:
1. Kita tidak tahu kualitas barang dagangan kita karena pengiriman langsung ke customer dari supplyer tanpa transit ke alamat kita.
2. Keuntungan kecil.


Reseller 
Menjadi reseller merupakan salah satu cara menjalankan bisnis online. Sistem reseller sebenarnya hampir sama dengan sistem dropship. Persamaannya yaitu sama-sama menjualkan kembali produk atau dagangan supplyer. Bedanya reseller membeli produk dulu dalam jumlah tertentu kemudian menjualnya kembali. Sistem ini memberikan keuntungan lebih banyak dibandingkan dropship. Reseller bisa mengetahui kualitas barang/produk karena pengiriman/packing barang dihandle sendiri setelah menerima kiriman dari supplyer.
Hanya saja sebagai reseller harus siap lebih gencar mempromosikan produknya jika tidak ingin ada yang tersisa.

Supplyer
Supplyer offline akan semakin berkembang jika promosinya diperluas melalui online. Website merupakan situs yang boleh dibilang wajib dimiliki supplyer untuk memajang produk-produknya. Promosi lain bisa dilakukan di berbagai jaringan sosial termasuk facebook dan bbm. Yang tidak kalah penting dengan selalu update produk di website.
Dalam promosi, supplyer sebaiknya lebih sering mencari reseller dan dropshipper untuk mempercepat dan memperbesar profit/pendapatan.
Seiring dengan banyaknya persaingan, sebagai supplyer perlu punya taktik, strategi, atau jurus jitu untuk mendapatkan reseller/dropshipper dan supaya resellernya berjuang tanpa henti dalam mempromosikan produknya. Salah satunya memberikan bonus/reward. Bonus/reward bisa diberikan kepada reseller yang mampu mencapai target tertentu atau dalam kurun waktu tertentu terus menerus melakukan order.

Puisi: Perbandingan

Andai dibandingkan
Kebohongan lebih berat daripada bumi.
Kebenaran lebih luas daripada bumi.
Hati yang merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah
lebih kaya dibandingkan lautan.

Andai dibandingkan,
Pemimpin yang dholim lebih panas dibandingkan api
Adu domba lebih pahit daripada racun
Kesabaran juga lebih pahit dibandingkan racun
Hati yang beku lebih dingin daripada bulan.

Ya Allah
Berilah kami yang terbaik
Ilmu yang bermanfaat,
Harta yang bermanfaat,
Dan anak-anak yang menentramkan hati.

Puisi: Sabar



Sabar
Apa yang harus kulakukan?
Marah, tiada guna
Namun emosi kadang tak terbendung
Meletup-letup tak terkendali
Menyua semua tak terkecuali

Lelah, gerah
Gemetar justru menghampiri
Kemarahan semakin menyiksa batin

Sabar
Dimanakah kau?
Hampiri aku yang sedang dilanda kemarahan dan frustasi

Ya Allah hanya kepadaMu
Tempat kembali
Tempat memuji
Tempat memohon kesabaran hampiri diri
Top of Form

Selasa, 16 September 2014

Fiksimini: Oh My Love



Cintaku bertepuk sebelah tangan. Dosen yang aku suka namanya Pak Heri tak punya perhatian khusus padaku. Di setiap mata kuliahnya aku selalu aktif bertanya dan selalu duduk di depan. Dari gelagatku sebenarnya mungkin beliau tahu aku suka padanya. Apa itu salah? Beliau tidak pernah buat kutersinggung, berbagai alasan yang masuk akal selalu terlontar dari bibirnya yang seksi ketika aku sering mengajaknya berbicara masalah statusnya dan selalu kutanyakan apakah beliau sudah punya tambatan hati. Sampai-sampai aku memberanikan diri untuk mempromosikan diri menjadi pendampingnya. Beliau hanya tersenyum seolah menganggapku hanya bercanda. Ada tampang bercandakah aku? Tak pantaskah mahasiswa menyukai dosennya yang masih single?
Harapanku makin kandas tatkala aku berada di teras gedung wisuda kakak kelas satu kos-kosan. Kulihat dosenku bersama kakak kelasku, Rina. Rina sangat anggun dengan balutan baju kebaya didampingi pak Heri dengan jas hitamnya. Mereka pasangan yang serasi. Aku baru paham sekarang, aku memang tak pantas untuk beliau. Sadar diri.

Fiksimini: Kantuk




 
Hari ini benar-benar rasanya mata tidak bisa diajak kompromi. Maunya lengket meski berusaha aku pelototkan. Tapi nasib masih berpihak padaku, daganganku tak selaris lapak sebelah yang penjualnya sampai tak terlihat pantatnya. Aku bisa duduk bermalasan dengan kepala hampir jatuh terkulai. Tak terpikir olehku bakal membawa kembali dagangan ke rumah lagi dengan sedikit penglaris. Dagangan tak basi namun hasil tak sesuai harapan istri. Berbeda dengan lapak tetangga sebelah yang jual somay, hampir habis dagangannya. 
Aku tetap dengan keberuntunganku, menikmati anugerah kantuk tak terkira.
"Bang, kopinya 10 gelas ya!"
"Oh, ya mas silakan duduk smua," ucapku terkejut karena suaranya yang kencang.
Segera kusiapkan air panas, gelas dan kopi. Belum sempat kutuang air panas itu ke gelas, pundakku serasa ada yang mengguncang. "Bangun, mas! Bangun! Ada trantib." 
"Oh, my god! Astagforullah!" aku bingung dan kelabakan membereskan daganganku.

Fiksimini: Cemburu


Matanya berkaca-kaca seolah tak mampu sembunyikan air mata. Apa yang membebani? Kebiasannya menghidangkan secangkir kopi kesukaanku, dua hari ini tak kudapati. Bila ada masalah biasanya istriku membahasnya melalui sms.
***
"Ayah, aku sebel sama ayah, aku mau kita cerai!" sms istriku ini sangat mengejutkan. Segera kubalas pesannya seolah tak ingin membuat menunggu dengan menanyakan alasannya.
"Ayah udah ga sayang aku lagi kan, mentang-mentang aku sudah ga cantik lagi, genit kan kalau lihat cewek muda."
Ya Allah, kejadian di mall itu membuat istriku cemburu. Memang tanpa sadar aku sering melihat wanita-wanita cantik di mall yang kami kunjungi. Tapi tak sedikitpun ada niatku untuk menduakannya.
Aku berusaha menjelaskan itu. Ia masih tak mau mengerti. "Ok kita bicarakan baik-baik di rumah ya, ayah tunggu, ayah selalu sayang sama ibu." Aku tak ingin membuat permasalahan ini mengambang.
***
"Lihat keempat anak kita! Ibu siap jika nanti mereka dapati ibu bapaknya bercerai dengan alasan cemburu yang tak beralasan."
"Aku punya alasan," tangkisnya. "Ya tapi ayah kan sudah minta maaf, dan janji ga akan mengulanginya, demi Allah. Aku janji!"
Perlahan namun pasti, ia mulai menghilangkan wajah kusutnya berganti senyum manis yang selalu membuatku klepek-klepek.

Tangerang, 15/09/14