Hari ini benar-benar rasanya mata tidak bisa diajak kompromi. Maunya lengket meski berusaha aku pelototkan. Tapi nasib masih berpihak padaku, daganganku tak selaris lapak sebelah yang penjualnya sampai tak terlihat pantatnya. Aku bisa duduk bermalasan dengan kepala hampir jatuh terkulai. Tak terpikir olehku bakal membawa kembali dagangan ke rumah lagi dengan sedikit penglaris. Dagangan tak basi namun hasil tak sesuai harapan istri. Berbeda dengan lapak tetangga sebelah yang jual somay, hampir habis dagangannya.
Aku tetap dengan keberuntunganku, menikmati anugerah kantuk tak terkira.
"Bang, kopinya 10 gelas ya!"
"Oh, ya mas silakan duduk smua," ucapku terkejut karena suaranya yang kencang.
Segera kusiapkan air panas, gelas dan kopi. Belum sempat kutuang air panas itu ke gelas, pundakku serasa ada yang mengguncang. "Bangun, mas! Bangun! Ada trantib."
"Oh, my god! Astagforullah!" aku bingung dan kelabakan membereskan daganganku.

0 komentar:
Posting Komentar