Kamis, 29 Oktober 2015

Senin, 26 Oktober 2015

Minggu, 25 Oktober 2015

Sabtu, 10 Oktober 2015

Jumat, 09 Oktober 2015

Diklat Online Guru Melek IT (DOGMIT) Solusi Atasi Kekurangan Nilai Pengembangan Diri

Diklat Online Guru Melek IT (DOGMIT) yang diselenggarakan oleh Pak Sukani sudah memasuki angkatan yang ke-25. Sebuah diklat yang diselenggarakan secara online dan bisa diakses peserta diklat melalui situs yang telah beliau buat. Diklat dilaksanakan selama 12 hari mulai tanggal 6 sampai 17 Oktober 2015 dengan jumlah jam sebanyak 60 jam.

Diklat ini diadakan dalam rangka meningkatkan kompetensi guru, khususnya  pemanfaatan IT dalam pembelajaran. Secara tidak langsung, kita sudah melakukan pengembangan diri dengan mengikuti diklat online ini. Pengembangan diri merupakan salah satu bagian dari Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) yang dijelaskan dalam Permennegpan dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009.
Yang lebih menarik lagi dari Diklat ini adalah materi-materi yang disajikan setiap hari dan harus langsung dipraktekkan. Materinya yaitu “Whiteboard Animation dan SnagIT For Education” yang artinya Animasi Papan Putih yang merupakan aplikasi online yang bernuansa multimedia. Kita bisa membuat bahan ajar atau presentasi dalam bentuk video animasi. Kita juga bisa mengaplikasikannya dalam modul atau buku yang kita buat. Siapa coba yang tidak tertarik? Jujur kalau saya sangat tertarik.
Kelebihan diklat online menurut saya adalah:
1.      Kita tidak perlu meninggalkan tugas utama kita sebagai pengajar.
2.      Kita bisa mengatur jadwal sendiri untuk mengakses materi diklat dan mengerjakan tugas diklat.
3.      Kita masih bisa selalu bersama keluarga di rumah dan melaksanakan kegiatan rumah tangga seperti biasa.
4.      Kita bisa menambah teman dari berbagai daerah.
5.      Kita akan semakin termotivasi untuk berkarya dan berkreasi.

Sertifikat dari Diklat Online Guru Melek IT bisa menjadi tambahan penilaian pengembangan diri. Jumlah  guru di Indonesia yang banyak jika dibandingkan dengan diklat-diklat yang diadakan pemerintah akan berdampak pada pemilihan guru-guru yang dikirim mengikuti diklat. Meskipun dirolling, tidak semua guru bisa berkesempatan mengikuti diklat-diklat yang sama. Bisa dibayangkan jika kita tidak memiliki nilai pengembangan diri yang sesuai aturan maka untuk kenaikan pangkat tentu mengalami kendala. Dan saya rasa diklat online inilah solusinya. Memang, kita harus merogoh kantong sendiri. Saya rasa bukan masalah kalau kita memang ingin berkembang dan buat kebaikan kita sendiri.

Minggu, 04 Oktober 2015

Senin, 28 September 2015

Rahasia di Balik Sedekah

Dalam sebuah hadist dari Al Hasan bin Ali ra, Nabi Muhammad SAW bersabda,  “Obati orang sakit di antara kalian dengan sedekah.”

            Hadist tersebut yang mengingatkan saya ketika anak saya sakit. Hari ini saya ingin menceritakan bagaimana sedekah memang bisa menjadi obat untuk sakit anak saya, Faisal. Kejadiannya sekitar bulan Maret 2015.
            Faisal mengalami demam tinggi terus menerus selama 5 hari. Waktu itu identifikasinya terkena Tipus. Ditawari makan tidak mau, ditawari minum juga hanya geleng-geleng kepala saja. Suhu badannya turun di hari kelima. Tapi melihat kondisinya saya khawatir karena lemas dan muntah-muntah jika minum atau makan sedikit. Saya dan suami memutuskan untuk membawanya berobat kembali. Setelah cek darah ternyata Tipusnya sudah negative, trombosit turun, dan dia kolap kekurangan cairan. Kami diberi rujukan ke rumah sakit umum.
            Sambil menggendong Burhan, saya mengusap-usap tangan dan kaki Faisal yang menggigil kedinginan sembari menunggu pertolongan pertama di UGD. Perawat menyuntik untuk mengambil tempat untuk infus. Saya berusaha tidak mempedulikan jeritan Faisal yang kesakitan karena suntikan itu karena sebenarnya dalam hati saya ingin menangis.
“Aku harus kuat, aku ingin Faisal sembuh ya Allah,” batinku.
Akhirnya saya sedikit lega setelah infusan bisa masuk melalui kaki kirinya setelah tiga kali gagal menemukan di kedua pergelangan tangan dan kaki kanan.  
            “Faisal cepat sembuh ya, maafkan ibu ya seandainya ibu punya salah. Ibu dan ayah sayang sama Faisal,” bisikku padanya.
                Alhamdulillah selama lima hari dirawat akhirnya Allah mengabulkan doa saya. Doa yang  setiap harinya saya sertai dengan sedekah dan meminta didoakan oleh mereka untuk kesembuhan Faisal. Mudah-mudahan tulisan ini semakin mengingatkan saya untuk selalu bersedekah dan bermanfaat bagi para pembaca.

Sabtu, 13 Juni 2015

Resensi: Remaja dan Kecerdasan Spiritual

Judul buku  : Remaja dan Kecerdasan Spiritual
Penulis        : Kazuhana El Ratna Mida, Naila, Rana Hamidah, dkk
Tebal Buku : 99 halaman
Penerbit      : Pena Indies
Tahun terbit: Mei 2015



Buku ini berisi kumpulan artikel Smart Teen yang ditulis oleh 20 penulis. Ada 5 tema yang diangkat dalam buku ini, yaitu: Makna Sahabat, Pergaulan Remaja, Remaja Spiritual, Dilema Cinta Remaja, dan Remaja Cerdas dan Berprestasi.

Remaja adalah tonggak utama yang nantinya akan meneruskan perjuangan bangsa, juga perjuangan akan agama yang dianutnya. Namun dewasa ini remaja kadang telah terkikis iman dan terkontaminasi dengan arus globalisasi. Mudahnya budaya Barat yang masuk membuat budaya ketimuran sedikit demi sedikit terlupakan.

Buku ini mengajak remaja muslim mendedikasikan dirinya untuk agama dan amanah akan tugas yang diembannya. Remaja harus segera menyadari bahwa pergaulan mereka salah dan segera memperbaiki diri. Remaja haruslah cerdas dan berprestasi.

Menjadi remaja Muslim yang memiliki spiritual bisa dimulai dengan memilih sahabat, membentengi diri dari pergaulan yang buruk, menjadi remaja hebat yang berakhlak, memahami indahnya pacaran setelah menikah dan selalu berusaha menjadi remaja yang cerdas dan berprestasi.

Sabtu, 23 Mei 2015

Puisi: Kurajut Mimpi

Puisi Dua Koma Tujuh

Kurajut Mimpi


Hidupku kian berwarna
Mimpi-mimpi kurajut mesra

Tangerang, 14122014


Keterangan: Puisi Dua Koma Tujuh merupakan puisi yang terdiri dari dua baris dan tujuh kata.

Rabu, 01 April 2015

Gerakan Tanpa Seterika (Tidak Bisa Total Mendukung)

Saya sangat setuju dengan adanya gerakan tanpa seterika. Mencuci baju, menjemur kemudian langsung melipat rapi dan langsung memasukkannya ke dalam lemari. Kegiatan itu sebenarnya sudah lama saya lakukan sejak saya masih sekolah. Yang diseterika hanya baju seragam sekolah, selebihnya hanya dilipat.
Benar-benar tanpa seterika juga pernah saya alami ketika tinggal di pondok pesantren selagi saya kuliah. Teman-teman pondok benar-benar rapi dalam melipat sehingga seperti diseterika aja waktu dipakai. Saya jadi ikut-ikutan sedikit lebih rapi dari sebelumnya. Ternyata benar lingkungan yang baik akan berpengaruh baik pada kita.
Sekarang, pasca anak saya terkena seterikaan tiga minggu yang lalu, saya jadi berpikir lagi ingin menggiatkan gerakan tanpa seterikaan. Baju sehari-hari sudah tidak lagi diseterika melainkan langsung dilipat setelah diangkat dari jemuran. Ya selain hemat listrik juga hemat tenaga.
Namun untuk baju seragam sekolah anak, seragam kerja, dan kerudung segi empat, saya masih merasa perlu menyeterikanya karena masih kelihatan lecek jika tidak diseterika. Jadi memang tidak bisa total bebas tanpa seterika.
Oh ya satu lagi, saya selalu berusaha membeli baju yang memang tidak memerlukan seterika namun kelihatan langsung rapi jika dilipat. Misalnya baju berbahan kaos, jersey dan semi sutera.

Rabu, 04 Maret 2015

Cerpen: Cinta Dibalik Batu Akik

Cinta Dibalik Batu Akik
Malam kian larut, namun perbincangan mereka seputar batu akik kian hangat dan ramai. Aku berusaha memejamkan mata meski telinga ini tetap saja mendengar suara gerinda menggosok batu yang semakin lama semakin memekakan telinga. Aku jengkel dengan kebiasaan mereka beberapa minggu terakhir ini yang seolah lebih penting batu akik daripada keluarga.
Badanku berulang kali berubah posisi sambil sesekali memandang dua bidadari kecil di samping kanan dan kiri. Aku tidak tahu besuk akan memberinya makan apa. Persediaan beras sudah habis, tadi itu sisa terakhir yang bisa kumasak menjadi bubur.
Aku hanya berharap larutnya malam ini mampu menelan dan membungkam mereka. Tua muda semuanya keranjingan batu akik. Siang malam_kalau tidak kerja yang diurusi batu akik melulu. Bisa dibilang mereka itu gila batu.
“Pak Don, jadi ga besuk kita ke Lebak? Kerja libur kan?” terdengar  jelas suara suamiku serak.
“Ya boleh tuh, Pak Yan. Kita berburu kalimaya seperti rencana kita minggu kemarin kan!” jawab Pak Don penuh semangat.
“Sip, bawa motor Pak Don ya, saya minta bonceng, motor saya bensinnya habis. Istri udah cemberut aja sejak dua minggu yang lalu.”
“Ok! Entah mengapa  istri kita ga senang lihat suaminya koleksi batu akik.” Terdengar orang lain yang menimpali. Agak riuh karena terdengar mereka saling menyahut dan berulang kali tertawa.
Mendengar itu aku teringat dua bulan yang lalu waktu suami pulang kerja memberi uang gaji lebih sedikit dari biasanya.
“Kok cuma segini, Yah.”
“Ya, tadi kepakai buat beli rougt batu Bacan lagi, ada temen yang pesen, nanti kalau udah jadi, untungnya aku kasih ke ibu.”
“Benar ya, jangan bohong!” ucapku sambit memonyongkan mulut melihat suami yang sudah berlalu.
“Oh ya, Bu, belanjanya diirit ya!” ia sempatkan berbalik melihatku.
Aku sempat memelototkan mata mendengar itu. Apa ayah tidak tahu segala sesuatu itu mahal harganya. Hadeh!
            Keuntungan hasil jual beli batu akik memang beberapa kali dikasih dan sempat membuat senyum merekah. Namun dua minggu terakhir ini aku benar-benar disuruh memangkas kebutuhan yang tidak perlu. Aulia dan  Imas sering merengek meminta jajan karena aku tidak menurutinya. Kembali kulihat wajah polos mereka. Kucium penuh kehangatan. “Met tidur sayang! I love you all!”
***
“Yah, beras sudah habis, uang buat belanja juga sudah habis.”
Tanpa banyak cakap suamiku mengeluarkan selembar uang ratusan ribu. Mungkin semalam ada yang membeli akiknya. Ah peduli amat, batinku.
“Beli beberapa liter aja, sisanya buat belanja sayuran dan lauk. Buat beberapa hari ya.”
Kembali aku harus mempererat ikat pinggang nih, “Tapi Yah, listriknya juga belum dibayar.”
“Listriknya bulan depan aja. Hari ini aku mau ke Lebak sama Pak Don. Mau cari batu kalimaya. Kalau dapat kita bisa kaya karena harga jualnya tinggi,” ucapnya sambil bersiap-siap dengan bersisir ala kadarnya.
“Akik lagi-akik lagi. Aku dan anak-anak sudah ga penting lagi ya sekarang. Harusnya tuh, hari minggu buat  bareng keluarga. Lihat Aulia sama Imas, mereka bosen di rumah terus, pingin jalan-jalan!” protesku.
“Mau jalan-jalan pakai apa sayang? Gajiku pas-pasan. Beberapa kali aku buat modal buat beli rouht batu bacan, giok solar,  dan rubi. Nanti kalau batunya sudah selesai diasah baru bisa menghasilkan duit. Sudah ada yang order. Sabar ya!” kembali jurus rayuan gombalnya dikeluarkan.
Mulut monyongku segera dibetulkan posisinya dengan mencubit mesra pipi ini seraya berkata, “Jangat cemberut lagi ya, doakan suamimu ini selamat di jalan dan bisa mendapatkan batu kalimaya.”
Aku mengangguk meski masih ada segumpal rasa dongkol, “Ya udah, boleh ga boleh tetap berangkat kan!”
***
Perjalanan dari Tangerang naik motor ke Kabupaten Lebak tepatnya kecamatan Maja memakan waktu kurang lebih 3 jam. Perjalanan yang cukup melelahkan tidak membuat Pak Doni dan Pak Riyan patah semangat. Apalagi ketika memasuki jajaran hijau dan indahnya alam   kabupaten Lebak.
“Tak disangka ya, di sepanjang kali Maja ini tersimpan batu yang indah.” Pak Riyan mengawali perbincangan saat sampai di sungai Maja.
“Ya apalagi masuk jajaran 10 batu mulia termahal di dunia lagi. Kita tinggal di Banten dan tidak tahu seperti apa batu Kalimaya sepertinya rugi besar,” ujar Pak Doni.
“Ya bener, orang luar negeri aja berburu batu ini karena batu Kalimaya ini memiliki ciri khas yang berbeda  dibandingkan dengan jenis black opal lain dari Australia atau negara yang lain.”
            Sepanjang sungai, sudah banyak penambang asli kecamatan Maja mencari batu yang sama. Pak Doni dan pak Riyan pun tidak mau ketinggalan, mereka segera turun ke sungai dan berulang kali menyelam.
***
            Hari sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB, tapi suamiku belum pulang juga. Gelisah hati ini menunggu dan sempat menyalahkan diri sendiri mengapa tadi tidak menanyakan kapan pulangnya. Berulang kali melihat handphone tapi tidak bisa menelepon karena pulsa sudah habis dan sengaja tidak diisi.
            Seolah tahu aku sedang menunggu teleponnya, tidak berapa lama handphoneku berdering. Kok nomer pak Don yang muncul? Belum sempat bertanya-tanya lagi dalam hati segera kuterima panggilan itu, “Ya, hallo!”
“Bu, ini Pak Don, maaf Bu, perjalanan kami sudah sampai di Balaraja, namun ada sedikit musibah di jalan. Kami terjatuh….”
Belum sempat beliau meneruskan ucapannya sudah kupotong dengan pertanyaan, “Keadaan suami saya bagaimana? Sekarang di mana?”
“Sekarang sedang ditangani dokter Bu, mungkin agak malam kami pulang.”
Kekhawatiranku terjawab sudah. Aku tidak tahu harus lega atau gelisah menunggu kedatangan suami. Imas mulai rewel lagi malam ini. Aku menggendongnya dan memegang keningnya dan ternyata ia sedikit demam. Untung masih ada obat penurun panas di kulkas, batinku. Setelah memberinya obat penurun panas, kuayun-ayun perlahan dalam gendongan untuk menidurkannya.
Karena kelelahan aku tertidur di samping dua bidadari kecil yang selalu membuatku tersenyum dengan celotehnya. Tanpa kusadari ternyata suamiku sudah mengetuk pintu berulang kali. Terdengar suara seraknya mulai marah ketika kubuka pintu.
“Lama amat sih? Enak-enakan tidur, sudah tahu suaminya kecelakaan malah tidur nyenyak.”
“Ini juga baru tidur karena sudah menunggu lama tapi ayah belum pulang juga,” kilahku.
Suamiku tak menghiraukan jawabanku dengan sedikit pincang masuk dan menggeletakkan tas ranselnya di ruang tamu.
“Ini minum teh dulu, Yah. Sudah tidak panas lagi. Sudah dari tadi aku membuatnya.”
“Ya ga papa. Taruh di meja aja,” jawabnya dengan masih kesal
“Imas demam Yah,” ucapku pada suami yang sudah duduk kembali di ruang makan setelah ia barganti pakaian.
Dia mulai membenarkan duduknya, menaruh gelas, dan berkata penuh perhatian, “Besuk di bawa ke puskesmas saja kalau masih demam. Maafkan aku ya, tak sempat memperhatikan anak-anak.”
Aku tersenyum dan mulai mendengar cerita bagaimana suamiku sampai terjatuh. Pak Don mengantuk karena kelelahan menyelam mencari batu kalimaya. Sungguh aku bersyukur karena suami masih diberi keselamatan.

Ayah, maafkan ibu  karena tidak mendukung hobi Ayah. Aku sadar, selama hobi ini masih dibatas wajar, mengapa tak didukung? Hobinya kan bukan buat koleksi pribadi tapi buat bisnis. Aku yakin kalau mendapat dukunganku pasti ia lebih semangat, pikirku.

Senin, 09 Februari 2015

SINOPSIS NOVEL MOTIVASI “PUTRA SALJU”

SINOPSIS NOVEL MOTIVASI “PUTRA SALJU”
Judul                     : Putra Salju
Karya                     : Salman el-Bahry
Penerbit              : DIVA Press Jogjakarta
Tahun terbit       : 2011, cetakan pertama

                Seorang anak nelayan tinggal di sebuah desa kecil yang terpencil di salah satu sudut negeri ini dikisahkan penuh warna. Di pundaknya diletakkan dua impian besar orang tuanya. Ibunya menginginkan ia menjadi seorang pengusaha sukses seperti Muhammad Jusuf Kalla dan menikah dengan gadis Bugis demi memelihara kemurnian nasab. Ibunya kerab memanggil namanya dengan panggilan Sufu (Muhammad Jusuf). Sedangkan ayahnya memberi nama Baharudin karena menginginkannya sejenius Bacharuddin Jusuf Habibie. Nama yang tertera di ijasah Baharudin karena pada awal mendaftar sekolah, ayahnya mencantumkan nama itu. Meski begitu nama yang lebih dikenal masyarakat adalah adalah Putra Salju julukan dari Pak Kades karena ia yang peduli terhadap arsip balai desa dan menyelamatkannya dari banjir di saat orang-orang sibuk menyelamatkan diri dan harta masing-masing.
                Pasca banjir disikapi positif oleh tokoh. Ia menemukan banyak ikan di rawa-rawa. Hampir setiap hari ia menangkap ikan, merendamnya dengan garam dan menjemurnya selama seminggu. Ia bisa mendapatkan uang dengan menjualnya ke pasar.   
“Ayah, kenapa kita harus membaca? Kita kan tinggal di desa? Bukankah membaca itu pekerjaan orang kota?” Selain memberi contoh selalu membaca di setiap waktu senggang, ayahnya juga menjelaskan panjang lebar manfaat membaca.
Berbagai usaha dilakukan untuk mewujudkan keinginan ibu dan ayahnya. Ia menulis tiga buah buku yang dipersembahkan untuk ayahnya. Ia juga memiliki usaha jual beli HP dan toko buku. Diakhiri ending pertemuannya dengan seorang wanita. Ia jatuh cinta dengan orang Jawa namun tidak mendapat restu ibunya.

“Andaikata, lima pendekatan yang kusebutkan tadi telah kutempuh, tetapi ibu tetap membatu, biarlah aku menempuh jalannya Imam an-Nawawi: AKU TAKKAN MENIKAH SEUMUR HIDUPKU!”

SINOPSIS NOVEL “OMAIGAT! Gantengnya Ketua Osis Gue”

SINOPSIS NOVEL “OMAIGAT! Gantengnya Ketua Osis Gue”
Judul                     : OMAIGAT! Gantengnya Ketua Osis Gue
Karya                     : Ribka Adelina
Penerbit              : Media Pressindo
Tahun terbit       : 2011, cetakan pertama

Agatha Alfira Daputri masuk ke SMA Budi Luhur Jakarta. Di hari pertama MOS, dia sudah mendapat musuh. Acara perkenalan senior membuatnya jatuh pingsan karena Alfri  teman dekatnya  ternyata ketua OSIS yang selalu menjadi bahan pembicaraan teman-teman sebelum MOS dimulai. Mereka mengatakan bahwa ketua OSISnya ganteng banget. Udah ganteng, atletis, tegas, pinter, ketua OSIS pula. Omaigat!!! Benar-benar sosok ideal bagi cewek-cewek seantero sekolah.
Cinta akan menemukan jalannya, siapa yang menyangka ternyata sang ketua OSIS yang mereka impikan ternyata sosok yang sudah dikenal. Mereka pun jadian hingga beberapa masalah dihadapi.
Aga mempunyai  dua kakak, Igla dan Agit. Aga merasa akan ditinggal sendirian karena Agit akan kuliah ke Bandung dan Igla akan pulang ke Amerika. Apalagi Afrie juga akan kuliah. Lebih sendiri lagi.
Ending diakhiri dengan liburan kejutan ke Bali bersama keluarga. Afrie pun ikut serta hingga menjadi liburan yang mengesankan.


Selasa, 03 Februari 2015

Fiksimini: Segitiga Sama Kaki

Seperti biasa, sore ini, aku menemani anakku belajar. Heran, meski sudah setiap hari belajar, masih saja harus diingatkan bahwa seusai ngaji mereka harus langsung belajar.
"Ayo sudah jam 5, waktunya belajar! Ada PR?"
"Aku ada PR, Bu!" kata Rehan. "Aku disuruh buat gambar segitiga sama kaki!" sahut Fahmi.
"Ya udah, ayo dikerjakan!"
Mereka masih terus memainkan lego berbentuk mobil menuju ke kamarnya.
Sembari menunggu, jempolku tak henti bergeser di tiap senti androidku. sesekali tersenyum melihat beranda facebook hingga tidak menyadari mereka sudah di samping. Rehan menyadarkan keasyikanku dengan pertanyaannya. Aku membantunya mengingat angka yang harus dihitung karena ia belum hapal angka. Masih tetap dengan android di tangan, kuamati Fahmi yang menggambar segitiga. Sudutnya tidak sempurna. Ada yang janggal. "Kok menggambar kaki, buat apa?"
"Kan segitiga sama kaki, ini segitiga dan ini kakinya.!" jawabnya polos.
"Oh," sambil menahan tawa kujelaskan apa itu segitiga sama kaki sambil meletakkan androidku.