Kamis, 29 Oktober 2015
Senin, 26 Oktober 2015
VIDEO PEMBELAJARAN MEMAHAMI TEKS ULASAN
Posted on 13.39by Nurus Annisa with No comments
Minggu, 25 Oktober 2015
video pembelajaran Ciri Teks Fabel by Nurus Annisa
Posted on 16.37by Nurus Annisa with No comments
video pembelajaran meringkas teks hasil observasi OUT by nurus annisa
Posted on 16.32by Nurus Annisa with No comments
tugas video pembelajaran teks deskripsi DOGMIT angkatan 25 OUT
Posted on 16.30by Nurus Annisa with No comments
VIDEO PEMBELAJARAN PERBEDAAN TEKS DESKRIPSI
Posted on 16.26by Nurus Annisa with No comments
VIDEO PEMBELAJARAN MENYUSUN TEKS DESKRIPSI
Posted on 16.24by Nurus Annisa with No comments
Sabtu, 10 Oktober 2015
Bahasa Indonesia Baku by Nurus Annisa
Posted on 21.20by Nurus Annisa with No comments
Jumat, 09 Oktober 2015
Diklat Online Guru Melek IT (DOGMIT) Solusi Atasi Kekurangan Nilai Pengembangan Diri
Posted on 13.38by Nurus Annisa with No comments
Diklat
Online Guru Melek IT (DOGMIT) yang diselenggarakan oleh Pak Sukani sudah
memasuki angkatan yang ke-25. Sebuah diklat yang diselenggarakan secara online dan
bisa diakses peserta diklat melalui situs yang telah beliau buat. Diklat dilaksanakan selama 12 hari mulai
tanggal 6 sampai 17 Oktober 2015 dengan jumlah jam sebanyak 60 jam.
Diklat
ini diadakan dalam rangka meningkatkan kompetensi guru, khususnya pemanfaatan IT dalam pembelajaran. Secara
tidak langsung, kita sudah melakukan pengembangan diri dengan mengikuti diklat
online ini. Pengembangan diri merupakan salah satu bagian dari Pengembangan
Keprofesian Berkelanjutan (PKB) yang dijelaskan dalam Permennegpan dan
Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009.
Yang
lebih menarik lagi dari Diklat ini adalah materi-materi yang disajikan setiap
hari dan harus langsung dipraktekkan. Materinya yaitu “Whiteboard Animation dan SnagIT For Education” yang artinya Animasi Papan Putih yang merupakan
aplikasi online yang bernuansa multimedia. Kita bisa membuat bahan ajar atau
presentasi dalam bentuk video animasi. Kita juga bisa mengaplikasikannya dalam
modul atau buku yang kita buat. Siapa coba yang tidak tertarik? Jujur kalau
saya sangat tertarik.
Kelebihan
diklat online menurut saya adalah:
1. Kita
tidak perlu meninggalkan tugas utama kita sebagai pengajar.
2. Kita
bisa mengatur jadwal sendiri untuk mengakses materi diklat dan mengerjakan
tugas diklat.
3. Kita
masih bisa selalu bersama keluarga di rumah dan melaksanakan kegiatan rumah
tangga seperti biasa.
4. Kita
bisa menambah teman dari berbagai daerah.
5. Kita
akan semakin termotivasi untuk berkarya dan berkreasi.
Sertifikat
dari Diklat Online Guru Melek IT bisa menjadi tambahan penilaian pengembangan
diri. Jumlah guru di Indonesia yang
banyak jika dibandingkan dengan diklat-diklat yang diadakan pemerintah akan
berdampak pada pemilihan guru-guru yang dikirim mengikuti diklat. Meskipun dirolling,
tidak semua guru bisa berkesempatan mengikuti diklat-diklat yang sama. Bisa
dibayangkan jika kita tidak memiliki nilai pengembangan diri yang sesuai aturan
maka untuk kenaikan pangkat tentu mengalami kendala. Dan saya rasa diklat
online inilah solusinya. Memang, kita harus merogoh kantong sendiri. Saya rasa
bukan masalah kalau kita memang ingin berkembang dan buat kebaikan kita
sendiri.
Minggu, 04 Oktober 2015
HARI PANGAN SEDUNIA: Petani Pejuang Pangan dan Gizi Bangsaku | Mom of Trio's World
Posted on 23.20by Nurus Annisa with No comments
Saya tertarik membagikan ini buat para pembaca.
HARI PANGAN SEDUNIA: Petani Pejuang Pangan dan Gizi Bangsaku | Mom of Trio's World
HARI PANGAN SEDUNIA: Petani Pejuang Pangan dan Gizi Bangsaku | Mom of Trio's World
Senin, 28 September 2015
Rahasia di Balik Sedekah
Posted on 19.13by Nurus Annisa with No comments
Dalam
sebuah hadist dari Al Hasan bin Ali ra, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Obati orang sakit di antara kalian dengan
sedekah.”
Hadist tersebut yang mengingatkan
saya ketika anak saya sakit. Hari ini saya ingin menceritakan bagaimana sedekah
memang bisa menjadi obat untuk sakit anak saya, Faisal. Kejadiannya sekitar
bulan Maret 2015.
Faisal mengalami demam tinggi terus
menerus selama 5 hari. Waktu itu identifikasinya terkena Tipus. Ditawari makan
tidak mau, ditawari minum juga hanya geleng-geleng kepala saja. Suhu badannya
turun di hari kelima. Tapi melihat kondisinya saya khawatir karena lemas dan
muntah-muntah jika minum atau makan sedikit. Saya dan suami memutuskan untuk
membawanya berobat kembali. Setelah cek darah ternyata Tipusnya sudah negative,
trombosit turun, dan dia kolap kekurangan cairan. Kami diberi rujukan ke rumah
sakit umum.
Sambil menggendong Burhan, saya
mengusap-usap tangan dan kaki Faisal yang menggigil kedinginan sembari menunggu
pertolongan pertama di UGD. Perawat menyuntik untuk mengambil tempat untuk
infus. Saya berusaha tidak mempedulikan jeritan Faisal yang kesakitan karena
suntikan itu karena sebenarnya dalam hati saya ingin menangis.
“Aku
harus kuat, aku ingin Faisal sembuh ya Allah,” batinku.
Akhirnya
saya sedikit lega setelah infusan bisa masuk melalui kaki kirinya setelah tiga
kali gagal menemukan di kedua pergelangan tangan dan kaki kanan.
“Faisal cepat sembuh ya, maafkan ibu
ya seandainya ibu punya salah. Ibu dan ayah sayang sama Faisal,” bisikku
padanya.
Alhamdulillah selama lima hari
dirawat akhirnya Allah mengabulkan doa saya. Doa yang setiap harinya saya sertai dengan sedekah dan meminta
didoakan oleh mereka untuk kesembuhan Faisal. Mudah-mudahan tulisan ini semakin
mengingatkan saya untuk selalu bersedekah dan bermanfaat bagi para pembaca.Sabtu, 13 Juni 2015
Resensi: Remaja dan Kecerdasan Spiritual
Posted on 21.08by Nurus Annisa with No comments
Judul buku : Remaja dan Kecerdasan Spiritual
Penulis : Kazuhana El Ratna Mida, Naila, Rana Hamidah, dkk
Tebal Buku : 99 halaman
Penerbit : Pena Indies
Tahun terbit: Mei 2015
Buku ini berisi kumpulan artikel Smart Teen yang ditulis oleh 20 penulis. Ada 5 tema yang diangkat dalam buku ini, yaitu: Makna Sahabat, Pergaulan Remaja, Remaja Spiritual, Dilema Cinta Remaja, dan Remaja Cerdas dan Berprestasi.
Remaja adalah tonggak utama yang nantinya akan meneruskan perjuangan bangsa, juga perjuangan akan agama yang dianutnya. Namun dewasa ini remaja kadang telah terkikis iman dan terkontaminasi dengan arus globalisasi. Mudahnya budaya Barat yang masuk membuat budaya ketimuran sedikit demi sedikit terlupakan.
Buku ini mengajak remaja muslim mendedikasikan dirinya untuk agama dan amanah akan tugas yang diembannya. Remaja harus segera menyadari bahwa pergaulan mereka salah dan segera memperbaiki diri. Remaja haruslah cerdas dan berprestasi.
Menjadi remaja Muslim yang memiliki spiritual bisa dimulai dengan memilih sahabat, membentengi diri dari pergaulan yang buruk, menjadi remaja hebat yang berakhlak, memahami indahnya pacaran setelah menikah dan selalu berusaha menjadi remaja yang cerdas dan berprestasi.
Penulis : Kazuhana El Ratna Mida, Naila, Rana Hamidah, dkk
Tebal Buku : 99 halaman
Penerbit : Pena Indies
Tahun terbit: Mei 2015
Buku ini berisi kumpulan artikel Smart Teen yang ditulis oleh 20 penulis. Ada 5 tema yang diangkat dalam buku ini, yaitu: Makna Sahabat, Pergaulan Remaja, Remaja Spiritual, Dilema Cinta Remaja, dan Remaja Cerdas dan Berprestasi.
Remaja adalah tonggak utama yang nantinya akan meneruskan perjuangan bangsa, juga perjuangan akan agama yang dianutnya. Namun dewasa ini remaja kadang telah terkikis iman dan terkontaminasi dengan arus globalisasi. Mudahnya budaya Barat yang masuk membuat budaya ketimuran sedikit demi sedikit terlupakan.
Buku ini mengajak remaja muslim mendedikasikan dirinya untuk agama dan amanah akan tugas yang diembannya. Remaja harus segera menyadari bahwa pergaulan mereka salah dan segera memperbaiki diri. Remaja haruslah cerdas dan berprestasi.
Menjadi remaja Muslim yang memiliki spiritual bisa dimulai dengan memilih sahabat, membentengi diri dari pergaulan yang buruk, menjadi remaja hebat yang berakhlak, memahami indahnya pacaran setelah menikah dan selalu berusaha menjadi remaja yang cerdas dan berprestasi.
Sabtu, 23 Mei 2015
Puisi: Secercah Harapan
Posted on 13.24by Nurus Annisa with No comments
Puisi Dua Koma Tujuh
Secercah Harapan
Perlahan namun pasti
Mereka mulai melirik karyaku
Tangerang, 22052015
Secercah Harapan
Perlahan namun pasti
Mereka mulai melirik karyaku
Tangerang, 22052015
Puisi: Kurajut Mimpi
Posted on 13.20by Nurus Annisa with No comments
Puisi Dua Koma Tujuh
Kurajut Mimpi
Hidupku kian berwarna
Mimpi-mimpi kurajut mesra
Tangerang, 14122014
Keterangan: Puisi Dua Koma Tujuh merupakan puisi yang terdiri dari dua baris dan tujuh kata.
Kurajut Mimpi
Hidupku kian berwarna
Mimpi-mimpi kurajut mesra
Tangerang, 14122014
Keterangan: Puisi Dua Koma Tujuh merupakan puisi yang terdiri dari dua baris dan tujuh kata.
Rabu, 01 April 2015
Gerakan Tanpa Seterika (Tidak Bisa Total Mendukung)
Posted on 23.26by Nurus Annisa with No comments
Saya sangat setuju dengan adanya gerakan tanpa seterika. Mencuci baju, menjemur kemudian langsung melipat rapi dan langsung memasukkannya ke dalam lemari. Kegiatan itu sebenarnya sudah lama saya lakukan sejak saya masih sekolah. Yang diseterika hanya baju seragam sekolah, selebihnya hanya dilipat.
Benar-benar tanpa seterika juga pernah saya alami ketika tinggal di pondok pesantren selagi saya kuliah. Teman-teman pondok benar-benar rapi dalam melipat sehingga seperti diseterika aja waktu dipakai. Saya jadi ikut-ikutan sedikit lebih rapi dari sebelumnya. Ternyata benar lingkungan yang baik akan berpengaruh baik pada kita.
Sekarang, pasca anak saya terkena seterikaan tiga minggu yang lalu, saya jadi berpikir lagi ingin menggiatkan gerakan tanpa seterikaan. Baju sehari-hari sudah tidak lagi diseterika melainkan langsung dilipat setelah diangkat dari jemuran. Ya selain hemat listrik juga hemat tenaga.
Namun untuk baju seragam sekolah anak, seragam kerja, dan kerudung segi empat, saya masih merasa perlu menyeterikanya karena masih kelihatan lecek jika tidak diseterika. Jadi memang tidak bisa total bebas tanpa seterika.
Oh ya satu lagi, saya selalu berusaha membeli baju yang memang tidak memerlukan seterika namun kelihatan langsung rapi jika dilipat. Misalnya baju berbahan kaos, jersey dan semi sutera.
Benar-benar tanpa seterika juga pernah saya alami ketika tinggal di pondok pesantren selagi saya kuliah. Teman-teman pondok benar-benar rapi dalam melipat sehingga seperti diseterika aja waktu dipakai. Saya jadi ikut-ikutan sedikit lebih rapi dari sebelumnya. Ternyata benar lingkungan yang baik akan berpengaruh baik pada kita.
Sekarang, pasca anak saya terkena seterikaan tiga minggu yang lalu, saya jadi berpikir lagi ingin menggiatkan gerakan tanpa seterikaan. Baju sehari-hari sudah tidak lagi diseterika melainkan langsung dilipat setelah diangkat dari jemuran. Ya selain hemat listrik juga hemat tenaga.
Namun untuk baju seragam sekolah anak, seragam kerja, dan kerudung segi empat, saya masih merasa perlu menyeterikanya karena masih kelihatan lecek jika tidak diseterika. Jadi memang tidak bisa total bebas tanpa seterika.
Oh ya satu lagi, saya selalu berusaha membeli baju yang memang tidak memerlukan seterika namun kelihatan langsung rapi jika dilipat. Misalnya baju berbahan kaos, jersey dan semi sutera.
Rabu, 04 Maret 2015
Cerpen: Cinta Dibalik Batu Akik
Posted on 09.24by Nurus Annisa with No comments
Cinta Dibalik Batu Akik
Malam
kian larut, namun perbincangan mereka seputar batu akik kian hangat dan ramai.
Aku berusaha memejamkan mata meski telinga ini tetap saja mendengar suara
gerinda menggosok batu yang semakin lama semakin memekakan telinga. Aku jengkel
dengan kebiasaan mereka beberapa minggu terakhir ini yang seolah lebih penting
batu akik daripada keluarga.
Badanku
berulang kali berubah posisi sambil sesekali memandang dua bidadari kecil di
samping kanan dan kiri. Aku tidak tahu besuk akan memberinya makan apa.
Persediaan beras sudah habis, tadi itu sisa terakhir yang bisa kumasak menjadi
bubur.
Aku
hanya berharap larutnya malam ini mampu menelan dan membungkam mereka. Tua muda
semuanya keranjingan batu akik. Siang malam_kalau tidak kerja yang diurusi batu
akik melulu. Bisa dibilang mereka itu gila batu.
“Pak
Don, jadi ga besuk kita ke Lebak? Kerja libur kan?” terdengar jelas suara suamiku serak.
“Ya
boleh tuh, Pak Yan. Kita berburu kalimaya seperti rencana kita minggu kemarin
kan!” jawab Pak Don penuh semangat.
“Sip,
bawa motor Pak Don ya, saya minta bonceng, motor saya bensinnya habis. Istri
udah cemberut aja sejak dua minggu yang lalu.”
“Ok!
Entah mengapa istri kita ga senang lihat
suaminya koleksi batu akik.” Terdengar orang lain yang menimpali. Agak riuh
karena terdengar mereka saling menyahut dan berulang kali tertawa.
Mendengar
itu aku teringat dua bulan yang lalu waktu suami pulang kerja memberi uang gaji
lebih sedikit dari biasanya.
“Kok
cuma segini, Yah.”
“Ya,
tadi kepakai buat beli rougt batu Bacan lagi, ada temen yang pesen, nanti kalau
udah jadi, untungnya aku kasih ke ibu.”
“Benar
ya, jangan bohong!” ucapku sambit memonyongkan mulut melihat suami yang sudah
berlalu.
“Oh
ya, Bu, belanjanya diirit ya!” ia sempatkan berbalik melihatku.
Aku
sempat memelototkan mata mendengar itu. Apa ayah tidak tahu segala sesuatu itu
mahal harganya. Hadeh!
Keuntungan
hasil jual beli batu akik memang beberapa kali dikasih dan sempat membuat
senyum merekah. Namun dua minggu terakhir ini aku benar-benar disuruh memangkas
kebutuhan yang tidak perlu. Aulia dan Imas
sering merengek meminta jajan karena aku tidak menurutinya. Kembali kulihat
wajah polos mereka. Kucium penuh kehangatan. “Met tidur sayang! I love you
all!”
***
“Yah,
beras sudah habis, uang buat belanja juga sudah habis.”
Tanpa
banyak cakap suamiku mengeluarkan selembar uang ratusan ribu. Mungkin semalam
ada yang membeli akiknya. Ah peduli amat, batinku.
“Beli
beberapa liter aja, sisanya buat belanja sayuran dan lauk. Buat beberapa hari
ya.”
Kembali
aku harus mempererat ikat pinggang nih, “Tapi Yah, listriknya juga belum
dibayar.”
“Listriknya
bulan depan aja. Hari ini aku mau ke Lebak sama Pak Don. Mau cari batu
kalimaya. Kalau dapat kita bisa kaya karena harga jualnya tinggi,” ucapnya
sambil bersiap-siap dengan bersisir ala kadarnya.
“Akik
lagi-akik lagi. Aku dan anak-anak sudah ga penting lagi ya sekarang. Harusnya
tuh, hari minggu buat bareng keluarga.
Lihat Aulia sama Imas, mereka bosen di rumah terus, pingin jalan-jalan!”
protesku.
“Mau
jalan-jalan pakai apa sayang? Gajiku pas-pasan. Beberapa kali aku buat modal
buat beli rouht batu bacan, giok solar, dan
rubi. Nanti kalau batunya sudah selesai diasah baru bisa menghasilkan duit. Sudah
ada yang order. Sabar ya!” kembali jurus rayuan gombalnya dikeluarkan.
Mulut
monyongku segera dibetulkan posisinya dengan mencubit mesra pipi ini seraya
berkata, “Jangat cemberut lagi ya, doakan suamimu ini selamat di jalan dan bisa
mendapatkan batu kalimaya.”
Aku
mengangguk meski masih ada segumpal rasa dongkol, “Ya udah, boleh ga boleh
tetap berangkat kan!”
***
Perjalanan
dari Tangerang naik motor ke Kabupaten Lebak tepatnya kecamatan Maja memakan
waktu kurang lebih 3 jam. Perjalanan yang cukup melelahkan tidak membuat Pak
Doni dan Pak Riyan patah semangat. Apalagi ketika memasuki jajaran hijau dan
indahnya alam kabupaten Lebak.
“Tak
disangka ya, di sepanjang kali Maja ini tersimpan batu yang indah.” Pak Riyan mengawali
perbincangan saat sampai di sungai Maja.
“Ya
apalagi masuk jajaran 10 batu mulia termahal di dunia lagi. Kita tinggal di
Banten dan tidak tahu seperti apa batu Kalimaya sepertinya rugi besar,” ujar
Pak Doni.
“Ya
bener, orang luar negeri aja berburu batu ini karena batu Kalimaya ini memiliki
ciri khas yang berbeda dibandingkan
dengan jenis black opal lain dari Australia atau negara yang lain.”
Sepanjang sungai, sudah banyak
penambang asli kecamatan Maja mencari batu yang sama. Pak Doni dan pak Riyan
pun tidak mau ketinggalan, mereka segera turun ke sungai dan berulang kali
menyelam.
***
Hari sudah menunjukkan pukul 21.00
WIB, tapi suamiku belum pulang juga. Gelisah hati ini menunggu dan sempat
menyalahkan diri sendiri mengapa tadi tidak menanyakan kapan pulangnya.
Berulang kali melihat handphone tapi tidak bisa menelepon karena pulsa sudah
habis dan sengaja tidak diisi.
Seolah tahu aku sedang menunggu
teleponnya, tidak berapa lama handphoneku berdering. Kok nomer pak Don yang
muncul? Belum sempat bertanya-tanya lagi dalam hati segera kuterima panggilan
itu, “Ya, hallo!”
“Bu,
ini Pak Don, maaf Bu, perjalanan kami sudah sampai di Balaraja, namun ada
sedikit musibah di jalan. Kami terjatuh….”
Belum
sempat beliau meneruskan ucapannya sudah kupotong dengan pertanyaan, “Keadaan
suami saya bagaimana? Sekarang di mana?”
“Sekarang
sedang ditangani dokter Bu, mungkin agak malam kami pulang.”
Kekhawatiranku
terjawab sudah. Aku tidak tahu harus lega atau gelisah menunggu kedatangan
suami. Imas mulai rewel lagi malam ini. Aku menggendongnya dan memegang
keningnya dan ternyata ia sedikit demam. Untung masih ada obat penurun panas di
kulkas, batinku. Setelah memberinya obat penurun panas, kuayun-ayun perlahan
dalam gendongan untuk menidurkannya.
Karena
kelelahan aku tertidur di samping dua bidadari kecil yang selalu membuatku
tersenyum dengan celotehnya. Tanpa kusadari ternyata suamiku sudah mengetuk
pintu berulang kali. Terdengar suara seraknya mulai marah ketika kubuka pintu.
“Lama
amat sih? Enak-enakan tidur, sudah tahu suaminya kecelakaan malah tidur
nyenyak.”
“Ini
juga baru tidur karena sudah menunggu lama tapi ayah belum pulang juga,”
kilahku.
Suamiku
tak menghiraukan jawabanku dengan sedikit pincang masuk dan menggeletakkan tas
ranselnya di ruang tamu.
“Ini
minum teh dulu, Yah. Sudah tidak panas lagi. Sudah dari tadi aku membuatnya.”
“Ya
ga papa. Taruh di meja aja,” jawabnya dengan masih kesal
“Imas
demam Yah,” ucapku pada suami yang sudah duduk kembali di ruang makan setelah ia
barganti pakaian.
Dia
mulai membenarkan duduknya, menaruh gelas, dan berkata penuh perhatian, “Besuk
di bawa ke puskesmas saja kalau masih demam. Maafkan aku ya, tak sempat
memperhatikan anak-anak.”
Aku
tersenyum dan mulai mendengar cerita bagaimana suamiku sampai terjatuh. Pak Don
mengantuk karena kelelahan menyelam mencari batu kalimaya. Sungguh aku bersyukur
karena suami masih diberi keselamatan.
Ayah,
maafkan ibu karena tidak mendukung hobi
Ayah. Aku sadar, selama hobi ini masih dibatas wajar, mengapa tak didukung?
Hobinya kan bukan buat koleksi pribadi tapi buat bisnis. Aku yakin kalau
mendapat dukunganku pasti ia lebih semangat, pikirku.
Senin, 09 Februari 2015
SINOPSIS NOVEL MOTIVASI “PUTRA SALJU”
Posted on 20.19by Nurus Annisa with No comments
SINOPSIS NOVEL MOTIVASI “PUTRA SALJU”
Judul : Putra Salju
Karya : Salman el-Bahry
Penerbit :
DIVA Press Jogjakarta
Tahun terbit :
2011, cetakan pertama
Seorang
anak nelayan tinggal di sebuah desa kecil yang terpencil di salah satu sudut
negeri ini dikisahkan penuh warna. Di pundaknya diletakkan dua impian besar
orang tuanya. Ibunya menginginkan ia menjadi seorang pengusaha sukses seperti
Muhammad Jusuf Kalla dan menikah dengan gadis Bugis demi memelihara kemurnian
nasab. Ibunya kerab memanggil namanya dengan panggilan Sufu (Muhammad Jusuf). Sedangkan
ayahnya memberi nama Baharudin karena menginginkannya sejenius Bacharuddin Jusuf
Habibie. Nama yang tertera di ijasah Baharudin karena pada awal mendaftar
sekolah, ayahnya mencantumkan nama itu. Meski begitu nama yang lebih dikenal
masyarakat adalah adalah Putra Salju julukan dari Pak Kades karena ia yang
peduli terhadap arsip balai desa dan menyelamatkannya dari banjir di saat orang-orang
sibuk menyelamatkan diri dan harta masing-masing.
Pasca banjir
disikapi positif oleh tokoh. Ia menemukan banyak ikan di rawa-rawa. Hampir setiap
hari ia menangkap ikan, merendamnya dengan garam dan menjemurnya selama
seminggu. Ia bisa mendapatkan uang dengan menjualnya ke pasar.
“Ayah, kenapa kita harus membaca?
Kita kan tinggal di desa? Bukankah membaca itu pekerjaan orang kota?” Selain
memberi contoh selalu membaca di setiap waktu senggang, ayahnya juga
menjelaskan panjang lebar manfaat membaca.
Berbagai usaha dilakukan untuk
mewujudkan keinginan ibu dan ayahnya. Ia menulis tiga buah buku yang
dipersembahkan untuk ayahnya. Ia juga memiliki usaha jual beli HP dan toko
buku. Diakhiri ending pertemuannya dengan seorang wanita. Ia jatuh cinta dengan
orang Jawa namun tidak mendapat restu ibunya.
“Andaikata, lima pendekatan yang kusebutkan tadi telah
kutempuh, tetapi ibu tetap membatu, biarlah aku menempuh jalannya Imam
an-Nawawi: AKU TAKKAN MENIKAH SEUMUR HIDUPKU!”
SINOPSIS NOVEL “OMAIGAT! Gantengnya Ketua Osis Gue”
Posted on 20.09by Nurus Annisa with No comments
SINOPSIS NOVEL “OMAIGAT! Gantengnya Ketua Osis Gue”
Judul :
OMAIGAT! Gantengnya Ketua Osis Gue
Karya :
Ribka Adelina
Penerbit :
Media Pressindo
Tahun terbit :
2011, cetakan pertama
Agatha Alfira Daputri masuk ke
SMA Budi Luhur Jakarta. Di hari pertama MOS, dia sudah mendapat musuh. Acara perkenalan
senior membuatnya jatuh pingsan karena Alfri
teman dekatnya ternyata ketua
OSIS yang selalu menjadi bahan pembicaraan teman-teman sebelum MOS dimulai. Mereka
mengatakan bahwa ketua OSISnya ganteng banget. Udah ganteng, atletis, tegas,
pinter, ketua OSIS pula. Omaigat!!! Benar-benar sosok ideal bagi cewek-cewek
seantero sekolah.
Cinta akan menemukan jalannya,
siapa yang menyangka ternyata sang ketua OSIS yang mereka impikan ternyata
sosok yang sudah dikenal. Mereka pun jadian hingga beberapa masalah dihadapi.
Aga mempunyai dua kakak, Igla dan Agit. Aga merasa akan
ditinggal sendirian karena Agit akan kuliah ke Bandung dan Igla akan pulang ke
Amerika. Apalagi Afrie juga akan kuliah. Lebih sendiri lagi.
Ending diakhiri dengan liburan kejutan
ke Bali bersama keluarga. Afrie pun ikut serta hingga menjadi liburan yang
mengesankan.
Selasa, 03 Februari 2015
Fiksimini: Segitiga Sama Kaki
Posted on 10.46by Nurus Annisa with No comments
Seperti biasa, sore ini, aku menemani anakku belajar. Heran, meski sudah setiap hari belajar, masih saja harus diingatkan bahwa seusai ngaji mereka harus langsung belajar.
"Ayo sudah jam 5, waktunya belajar! Ada PR?"
"Aku ada PR, Bu!" kata Rehan. "Aku disuruh buat gambar segitiga sama kaki!" sahut Fahmi.
"Ya udah, ayo dikerjakan!"
Mereka masih terus memainkan lego berbentuk mobil menuju ke kamarnya.
Sembari menunggu, jempolku tak henti bergeser di tiap senti androidku. sesekali tersenyum melihat beranda facebook hingga tidak menyadari mereka sudah di samping. Rehan menyadarkan keasyikanku dengan pertanyaannya. Aku membantunya mengingat angka yang harus dihitung karena ia belum hapal angka. Masih tetap dengan android di tangan, kuamati Fahmi yang menggambar segitiga. Sudutnya tidak sempurna. Ada yang janggal. "Kok menggambar kaki, buat apa?"
"Kan segitiga sama kaki, ini segitiga dan ini kakinya.!" jawabnya polos.
"Oh," sambil menahan tawa kujelaskan apa itu segitiga sama kaki sambil meletakkan androidku.
"Ayo sudah jam 5, waktunya belajar! Ada PR?"
"Aku ada PR, Bu!" kata Rehan. "Aku disuruh buat gambar segitiga sama kaki!" sahut Fahmi.
"Ya udah, ayo dikerjakan!"
Mereka masih terus memainkan lego berbentuk mobil menuju ke kamarnya.
Sembari menunggu, jempolku tak henti bergeser di tiap senti androidku. sesekali tersenyum melihat beranda facebook hingga tidak menyadari mereka sudah di samping. Rehan menyadarkan keasyikanku dengan pertanyaannya. Aku membantunya mengingat angka yang harus dihitung karena ia belum hapal angka. Masih tetap dengan android di tangan, kuamati Fahmi yang menggambar segitiga. Sudutnya tidak sempurna. Ada yang janggal. "Kok menggambar kaki, buat apa?"
"Kan segitiga sama kaki, ini segitiga dan ini kakinya.!" jawabnya polos.
"Oh," sambil menahan tawa kujelaskan apa itu segitiga sama kaki sambil meletakkan androidku.
Langganan:
Postingan (Atom)


