Rabu, 04 Maret 2015

Cerpen: Cinta Dibalik Batu Akik

Cinta Dibalik Batu Akik
Malam kian larut, namun perbincangan mereka seputar batu akik kian hangat dan ramai. Aku berusaha memejamkan mata meski telinga ini tetap saja mendengar suara gerinda menggosok batu yang semakin lama semakin memekakan telinga. Aku jengkel dengan kebiasaan mereka beberapa minggu terakhir ini yang seolah lebih penting batu akik daripada keluarga.
Badanku berulang kali berubah posisi sambil sesekali memandang dua bidadari kecil di samping kanan dan kiri. Aku tidak tahu besuk akan memberinya makan apa. Persediaan beras sudah habis, tadi itu sisa terakhir yang bisa kumasak menjadi bubur.
Aku hanya berharap larutnya malam ini mampu menelan dan membungkam mereka. Tua muda semuanya keranjingan batu akik. Siang malam_kalau tidak kerja yang diurusi batu akik melulu. Bisa dibilang mereka itu gila batu.
“Pak Don, jadi ga besuk kita ke Lebak? Kerja libur kan?” terdengar  jelas suara suamiku serak.
“Ya boleh tuh, Pak Yan. Kita berburu kalimaya seperti rencana kita minggu kemarin kan!” jawab Pak Don penuh semangat.
“Sip, bawa motor Pak Don ya, saya minta bonceng, motor saya bensinnya habis. Istri udah cemberut aja sejak dua minggu yang lalu.”
“Ok! Entah mengapa  istri kita ga senang lihat suaminya koleksi batu akik.” Terdengar orang lain yang menimpali. Agak riuh karena terdengar mereka saling menyahut dan berulang kali tertawa.
Mendengar itu aku teringat dua bulan yang lalu waktu suami pulang kerja memberi uang gaji lebih sedikit dari biasanya.
“Kok cuma segini, Yah.”
“Ya, tadi kepakai buat beli rougt batu Bacan lagi, ada temen yang pesen, nanti kalau udah jadi, untungnya aku kasih ke ibu.”
“Benar ya, jangan bohong!” ucapku sambit memonyongkan mulut melihat suami yang sudah berlalu.
“Oh ya, Bu, belanjanya diirit ya!” ia sempatkan berbalik melihatku.
Aku sempat memelototkan mata mendengar itu. Apa ayah tidak tahu segala sesuatu itu mahal harganya. Hadeh!
            Keuntungan hasil jual beli batu akik memang beberapa kali dikasih dan sempat membuat senyum merekah. Namun dua minggu terakhir ini aku benar-benar disuruh memangkas kebutuhan yang tidak perlu. Aulia dan  Imas sering merengek meminta jajan karena aku tidak menurutinya. Kembali kulihat wajah polos mereka. Kucium penuh kehangatan. “Met tidur sayang! I love you all!”
***
“Yah, beras sudah habis, uang buat belanja juga sudah habis.”
Tanpa banyak cakap suamiku mengeluarkan selembar uang ratusan ribu. Mungkin semalam ada yang membeli akiknya. Ah peduli amat, batinku.
“Beli beberapa liter aja, sisanya buat belanja sayuran dan lauk. Buat beberapa hari ya.”
Kembali aku harus mempererat ikat pinggang nih, “Tapi Yah, listriknya juga belum dibayar.”
“Listriknya bulan depan aja. Hari ini aku mau ke Lebak sama Pak Don. Mau cari batu kalimaya. Kalau dapat kita bisa kaya karena harga jualnya tinggi,” ucapnya sambil bersiap-siap dengan bersisir ala kadarnya.
“Akik lagi-akik lagi. Aku dan anak-anak sudah ga penting lagi ya sekarang. Harusnya tuh, hari minggu buat  bareng keluarga. Lihat Aulia sama Imas, mereka bosen di rumah terus, pingin jalan-jalan!” protesku.
“Mau jalan-jalan pakai apa sayang? Gajiku pas-pasan. Beberapa kali aku buat modal buat beli rouht batu bacan, giok solar,  dan rubi. Nanti kalau batunya sudah selesai diasah baru bisa menghasilkan duit. Sudah ada yang order. Sabar ya!” kembali jurus rayuan gombalnya dikeluarkan.
Mulut monyongku segera dibetulkan posisinya dengan mencubit mesra pipi ini seraya berkata, “Jangat cemberut lagi ya, doakan suamimu ini selamat di jalan dan bisa mendapatkan batu kalimaya.”
Aku mengangguk meski masih ada segumpal rasa dongkol, “Ya udah, boleh ga boleh tetap berangkat kan!”
***
Perjalanan dari Tangerang naik motor ke Kabupaten Lebak tepatnya kecamatan Maja memakan waktu kurang lebih 3 jam. Perjalanan yang cukup melelahkan tidak membuat Pak Doni dan Pak Riyan patah semangat. Apalagi ketika memasuki jajaran hijau dan indahnya alam   kabupaten Lebak.
“Tak disangka ya, di sepanjang kali Maja ini tersimpan batu yang indah.” Pak Riyan mengawali perbincangan saat sampai di sungai Maja.
“Ya apalagi masuk jajaran 10 batu mulia termahal di dunia lagi. Kita tinggal di Banten dan tidak tahu seperti apa batu Kalimaya sepertinya rugi besar,” ujar Pak Doni.
“Ya bener, orang luar negeri aja berburu batu ini karena batu Kalimaya ini memiliki ciri khas yang berbeda  dibandingkan dengan jenis black opal lain dari Australia atau negara yang lain.”
            Sepanjang sungai, sudah banyak penambang asli kecamatan Maja mencari batu yang sama. Pak Doni dan pak Riyan pun tidak mau ketinggalan, mereka segera turun ke sungai dan berulang kali menyelam.
***
            Hari sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB, tapi suamiku belum pulang juga. Gelisah hati ini menunggu dan sempat menyalahkan diri sendiri mengapa tadi tidak menanyakan kapan pulangnya. Berulang kali melihat handphone tapi tidak bisa menelepon karena pulsa sudah habis dan sengaja tidak diisi.
            Seolah tahu aku sedang menunggu teleponnya, tidak berapa lama handphoneku berdering. Kok nomer pak Don yang muncul? Belum sempat bertanya-tanya lagi dalam hati segera kuterima panggilan itu, “Ya, hallo!”
“Bu, ini Pak Don, maaf Bu, perjalanan kami sudah sampai di Balaraja, namun ada sedikit musibah di jalan. Kami terjatuh….”
Belum sempat beliau meneruskan ucapannya sudah kupotong dengan pertanyaan, “Keadaan suami saya bagaimana? Sekarang di mana?”
“Sekarang sedang ditangani dokter Bu, mungkin agak malam kami pulang.”
Kekhawatiranku terjawab sudah. Aku tidak tahu harus lega atau gelisah menunggu kedatangan suami. Imas mulai rewel lagi malam ini. Aku menggendongnya dan memegang keningnya dan ternyata ia sedikit demam. Untung masih ada obat penurun panas di kulkas, batinku. Setelah memberinya obat penurun panas, kuayun-ayun perlahan dalam gendongan untuk menidurkannya.
Karena kelelahan aku tertidur di samping dua bidadari kecil yang selalu membuatku tersenyum dengan celotehnya. Tanpa kusadari ternyata suamiku sudah mengetuk pintu berulang kali. Terdengar suara seraknya mulai marah ketika kubuka pintu.
“Lama amat sih? Enak-enakan tidur, sudah tahu suaminya kecelakaan malah tidur nyenyak.”
“Ini juga baru tidur karena sudah menunggu lama tapi ayah belum pulang juga,” kilahku.
Suamiku tak menghiraukan jawabanku dengan sedikit pincang masuk dan menggeletakkan tas ranselnya di ruang tamu.
“Ini minum teh dulu, Yah. Sudah tidak panas lagi. Sudah dari tadi aku membuatnya.”
“Ya ga papa. Taruh di meja aja,” jawabnya dengan masih kesal
“Imas demam Yah,” ucapku pada suami yang sudah duduk kembali di ruang makan setelah ia barganti pakaian.
Dia mulai membenarkan duduknya, menaruh gelas, dan berkata penuh perhatian, “Besuk di bawa ke puskesmas saja kalau masih demam. Maafkan aku ya, tak sempat memperhatikan anak-anak.”
Aku tersenyum dan mulai mendengar cerita bagaimana suamiku sampai terjatuh. Pak Don mengantuk karena kelelahan menyelam mencari batu kalimaya. Sungguh aku bersyukur karena suami masih diberi keselamatan.

Ayah, maafkan ibu  karena tidak mendukung hobi Ayah. Aku sadar, selama hobi ini masih dibatas wajar, mengapa tak didukung? Hobinya kan bukan buat koleksi pribadi tapi buat bisnis. Aku yakin kalau mendapat dukunganku pasti ia lebih semangat, pikirku.

0 komentar: