Malam
kian larut, namun perbincangan mereka seputar batu akik kian hangat dan ramai.
Aku berusaha memejamkan mata meski telinga ini tetap saja mendengar suara
gerinda menggosok batu yang semakin lama semakin memekakan telinga. Aku jengkel
dengan kebiasaan mereka beberapa minggu terakhir ini yang seolah lebih penting
batu akik daripada keluarga.
Badanku
berulang kali berubah posisi sambil sesekali memandang dua bidadari kecil di
samping kanan dan kiri. Aku tidak tahu besuk akan memberinya makan apa.
Persediaan beras sudah habis, tadi itu sisa terakhir yang bisa kumasak menjadi
bubur.
Aku
hanya berharap larutnya malam ini mampu menelan dan membungkam mereka. Tua muda
semuanya keranjingan batu akik. Siang malam_kalau tidak kerja yang diurusi batu
akik melulu. Bisa dibilang mereka itu gila batu.
“Pak
Don, jadi ga besuk kita ke Lebak? Kerja libur kan?” terdengar jelas suara suamiku serak.
“Ya
boleh tuh, Pak Yan. Kita berburu kalimaya seperti rencana kita minggu kemarin
kan!” jawab Pak Don penuh semangat.
“Sip,
bawa motor Pak Don ya, saya minta bonceng, motor saya bensinnya habis. Istri
udah cemberut aja sejak dua minggu yang lalu.”
“Ok!
Entah mengapa istri kita ga senang lihat
suaminya koleksi batu akik.” Terdengar orang lain yang menimpali. Agak riuh
karena terdengar mereka saling menyahut dan berulang kali tertawa.
Mendengar
itu aku teringat dua bulan yang lalu waktu suami pulang kerja memberi uang gaji
lebih sedikit dari biasanya.
“Kok
cuma segini, Yah.”
“Ya,
tadi kepakai buat beli rougt batu Bacan lagi, ada temen yang pesen, nanti kalau
udah jadi, untungnya aku kasih ke ibu.”
“Benar
ya, jangan bohong!” ucapku sambit memonyongkan mulut melihat suami yang sudah
berlalu.
“Oh
ya, Bu, belanjanya diirit ya!” ia sempatkan berbalik melihatku.
Aku
sempat memelototkan mata mendengar itu. Apa ayah tidak tahu segala sesuatu itu
mahal harganya. Hadeh!
Keuntungan
hasil jual beli batu akik memang beberapa kali dikasih dan sempat membuat
senyum merekah. Namun dua minggu terakhir ini aku benar-benar disuruh memangkas
kebutuhan yang tidak perlu. Aulia dan Imas
sering merengek meminta jajan karena aku tidak menurutinya. Kembali kulihat
wajah polos mereka. Kucium penuh kehangatan. “Met tidur sayang! I love you
all!”
***
“Yah,
beras sudah habis, uang buat belanja juga sudah habis.”
Tanpa
banyak cakap suamiku mengeluarkan selembar uang ratusan ribu. Mungkin semalam
ada yang membeli akiknya. Ah peduli amat, batinku.
“Beli
beberapa liter aja, sisanya buat belanja sayuran dan lauk. Buat beberapa hari
ya.”
Kembali
aku harus mempererat ikat pinggang nih, “Tapi Yah, listriknya juga belum
dibayar.”
“Listriknya
bulan depan aja. Hari ini aku mau ke Lebak sama Pak Don. Mau cari batu
kalimaya. Kalau dapat kita bisa kaya karena harga jualnya tinggi,” ucapnya
sambil bersiap-siap dengan bersisir ala kadarnya.
“Akik
lagi-akik lagi. Aku dan anak-anak sudah ga penting lagi ya sekarang. Harusnya
tuh, hari minggu buat bareng keluarga.
Lihat Aulia sama Imas, mereka bosen di rumah terus, pingin jalan-jalan!”
protesku.
“Mau
jalan-jalan pakai apa sayang? Gajiku pas-pasan. Beberapa kali aku buat modal
buat beli rouht batu bacan, giok solar, dan
rubi. Nanti kalau batunya sudah selesai diasah baru bisa menghasilkan duit. Sudah
ada yang order. Sabar ya!” kembali jurus rayuan gombalnya dikeluarkan.
Mulut
monyongku segera dibetulkan posisinya dengan mencubit mesra pipi ini seraya
berkata, “Jangat cemberut lagi ya, doakan suamimu ini selamat di jalan dan bisa
mendapatkan batu kalimaya.”
Aku
mengangguk meski masih ada segumpal rasa dongkol, “Ya udah, boleh ga boleh
tetap berangkat kan!”
***
Perjalanan
dari Tangerang naik motor ke Kabupaten Lebak tepatnya kecamatan Maja memakan
waktu kurang lebih 3 jam. Perjalanan yang cukup melelahkan tidak membuat Pak
Doni dan Pak Riyan patah semangat. Apalagi ketika memasuki jajaran hijau dan
indahnya alam kabupaten Lebak.
“Tak
disangka ya, di sepanjang kali Maja ini tersimpan batu yang indah.” Pak Riyan mengawali
perbincangan saat sampai di sungai Maja.
“Ya
apalagi masuk jajaran 10 batu mulia termahal di dunia lagi. Kita tinggal di
Banten dan tidak tahu seperti apa batu Kalimaya sepertinya rugi besar,” ujar
Pak Doni.
“Ya
bener, orang luar negeri aja berburu batu ini karena batu Kalimaya ini memiliki
ciri khas yang berbeda dibandingkan
dengan jenis black opal lain dari Australia atau negara yang lain.”
Sepanjang sungai, sudah banyak
penambang asli kecamatan Maja mencari batu yang sama. Pak Doni dan pak Riyan
pun tidak mau ketinggalan, mereka segera turun ke sungai dan berulang kali
menyelam.
***
Hari sudah menunjukkan pukul 21.00
WIB, tapi suamiku belum pulang juga. Gelisah hati ini menunggu dan sempat
menyalahkan diri sendiri mengapa tadi tidak menanyakan kapan pulangnya.
Berulang kali melihat handphone tapi tidak bisa menelepon karena pulsa sudah
habis dan sengaja tidak diisi.
Seolah tahu aku sedang menunggu
teleponnya, tidak berapa lama handphoneku berdering. Kok nomer pak Don yang
muncul? Belum sempat bertanya-tanya lagi dalam hati segera kuterima panggilan
itu, “Ya, hallo!”
“Bu,
ini Pak Don, maaf Bu, perjalanan kami sudah sampai di Balaraja, namun ada
sedikit musibah di jalan. Kami terjatuh….”
Belum
sempat beliau meneruskan ucapannya sudah kupotong dengan pertanyaan, “Keadaan
suami saya bagaimana? Sekarang di mana?”
“Sekarang
sedang ditangani dokter Bu, mungkin agak malam kami pulang.”
Kekhawatiranku
terjawab sudah. Aku tidak tahu harus lega atau gelisah menunggu kedatangan
suami. Imas mulai rewel lagi malam ini. Aku menggendongnya dan memegang
keningnya dan ternyata ia sedikit demam. Untung masih ada obat penurun panas di
kulkas, batinku. Setelah memberinya obat penurun panas, kuayun-ayun perlahan
dalam gendongan untuk menidurkannya.
Karena
kelelahan aku tertidur di samping dua bidadari kecil yang selalu membuatku
tersenyum dengan celotehnya. Tanpa kusadari ternyata suamiku sudah mengetuk
pintu berulang kali. Terdengar suara seraknya mulai marah ketika kubuka pintu.
“Lama
amat sih? Enak-enakan tidur, sudah tahu suaminya kecelakaan malah tidur
nyenyak.”
“Ini
juga baru tidur karena sudah menunggu lama tapi ayah belum pulang juga,”
kilahku.
Suamiku
tak menghiraukan jawabanku dengan sedikit pincang masuk dan menggeletakkan tas
ranselnya di ruang tamu.
“Ini
minum teh dulu, Yah. Sudah tidak panas lagi. Sudah dari tadi aku membuatnya.”
“Ya
ga papa. Taruh di meja aja,” jawabnya dengan masih kesal
“Imas
demam Yah,” ucapku pada suami yang sudah duduk kembali di ruang makan setelah ia
barganti pakaian.
Dia
mulai membenarkan duduknya, menaruh gelas, dan berkata penuh perhatian, “Besuk
di bawa ke puskesmas saja kalau masih demam. Maafkan aku ya, tak sempat
memperhatikan anak-anak.”
Aku
tersenyum dan mulai mendengar cerita bagaimana suamiku sampai terjatuh. Pak Don
mengantuk karena kelelahan menyelam mencari batu kalimaya. Sungguh aku bersyukur
karena suami masih diberi keselamatan.
Ayah,
maafkan ibu karena tidak mendukung hobi
Ayah. Aku sadar, selama hobi ini masih dibatas wajar, mengapa tak didukung?
Hobinya kan bukan buat koleksi pribadi tapi buat bisnis. Aku yakin kalau
mendapat dukunganku pasti ia lebih semangat, pikirku.

0 komentar:
Posting Komentar