Fahmi sedang asik main game di HP-nya. Ibunya yang baru sampai di rumah, memanggil agar ia membantu membawakan belanjaan ibunya. Ia menolak sambil berkata, “ahh, capek Bu.” Akhirnya ibunya membawa belanjaannya sendiri ke dapur lalu sibuk memasak di dapur. Ketika makanan sudah matang, Fahmi makan dengan lahapnya. Selesai makan, ia hendak pergi bermain. Ia meletakkan piring tetap di meja makan. Ibunya memintanya menaruh piringnya di tempat cucian piring. Sambil berlalu, ia spontan menjawab, “Ah, aku mau main ke luar Bu.” Teriakan ibunya tidak digubrisnya.
Suatu hari, Fahmi pulang sekolah dalam keadaan lapar. Ia berteriak pada ibunya, “Bu, ambilkan makan, aku lapar.” Ibunya menyuruhnya ganti baju sambil menunggu diambilkan makan. Segera dilepasnya baju seragamnya dan melemparnya di atas tempat tidur. Kemudian ia segera berganti baju. Ibunya sudah menyiapkan makanan untuknya di meja makan. Melihat baju yang berantakan di atas tempat tidur, ibunya berkata, “Mas Fahmi, baju seragamnya kok ditaruhnya sembarangan sih. Lain kali langsung masukkan ke mesin cuci ya.” Ia hanya melirik ibunya sambil asik makan. Akhirnya ibunya juga yang membawa baju itu ke mesin cuci.
Beberapa hari kemudian, ibu Fahmi jatuh sakit. Dokter menyarankan untuk dirawat. Ayah Fahmi harus mondar-mandir menunggui ibunya beberapa hari. Ketika lapar, Fahmi mencari makanan di atas meja makan. Ayahnya sudah membelikannya makanan dan ditaruh diatas meja. Ia segera memakannya dengan lahap. Kemudian ia meletakkan piringnya ke tempat cucian piring. Selama tiga hari, begitu terus rutinitas Fahmi. Ia tidak pernah mencuci piring bekas tempat makannya. Hingga piring itu menumpuk di tempat cucian piring. Selesai makan ia segera berlari menuju teras hendak bermain. Tanpa sengaja ia menginjak sepatu sekolah yang ditaruhnya sembarangan. Ia pun terjatuh. Ia meringis kesakitan. Ia melihat sekeliling rumahnya. Ternyata rumahnya sangat berantakan. Ia tertegun.
Ternyata selama ini ibunya setiap hari telah membersihkan rumah sehingga ia nyaman bermain. Ibunya selalu memasak makanan yang lezat agar ia tidak kelaparan. Ibunya selalu mecuci piring sehingga piring kotor tidak menumpuk di tempat cucian. Aku selalu menolak jika disuruh membantu sedikit. Meskipun begitu ibu masih sayang padaku. Terbayang wajah ibunya yang dengan penuh kasih sayang selalu siap membantunya. Matanya berkaca-kaca. Ia menyesal. Ia berjanji akan selalu membantu ibunya. “Aku harus berubah.”
Ia segera mengambil sapu dan segera membersihkan rumah. Ia meletakkan sepatu di rak sepatu. Ia menaruh seragam dan baju kotornya ke dalam mesin cuci. Setelah itu ia mencuci piring kemudian mengepel lantai. Setelah selesai, ia merasa lelah. Baru sehari saja lelahnya seperti ini. Padahal setiap hari ibu selalu melakukan ini dan tidak pernah mengeluh.


0 komentar:
Posting Komentar